Seorang pria pemilik toko sparepart sepeda motor di kawasan pantai Talise, Palu, Zaidillah Muhammad (46) lolos dari maut. Padahal ia bersama istrinya Johana Borman dan anak bungsunya Amar Muhfid sama-sama digulung tsunami saat hendak menaiki sepeda motor. Mereka merupakan warga Gorontalo yang telah menetap di Palu.
Franco Bravo Dengo -Â Palu
Senja menutup sore di Pantai Talise, Kota Palu, Jumat (28/9). Dengan hati yang gembira Zaidilah pulang ke rumah bersama istri dan anak bungsunya bernama Amar Muhfid (8) di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulero, Palu. Mereka baru saja menutup toko suku cadangnya di Jalan dr Suharso, Desa Subarat, Kecamatan Palu Timur.
“Kita ketawa-ketawa, anak saya mengorek-ngorek perut saya di atas motor,†tutur Zaidi kepada Gorontalo Post, kemarin (3/10). Tak menyangka, hari itu terakhir kali dia naik sepeda motor bersama istri beserta anaknya. Terakhir kali melihat senyum lebar istri, juga candaan ringan dia dan anaknya. Gempa dan tsunami memisahkan mereka yang telah membangun bahtera rumah tangga selama 15 tahun.
“Saya mau menangis tapi berupaya tegar,†katanya kepada wartawan. Ketika sedang asyik menikmati senja dan bercanda di atas motor, guncangan keras tiba-tiba melanda. Aspal tepat di kakinya retak. Terbelah.
“Anak-istri turun ke seberang jalan karena tanah terbelah. Saya berpindah ke seberang,†katanya. Tak lama kemudian, air laut naik dan menghantam Kota Palu. Selama dua kali. Hanya berselang sekitar beberapa menit. Mereka terpisah. Zalidi memegang erat kabel listrik.
“Saya lari sekitar 10 meter. Sekitar enam meter rumah itu ombak lebihi sekitar 2-3 meter. Di situ kami terpisah, saya anak-istri. Kami tergulung. Dari pinggir pantai saya tersangkut di kabel listrik,†tuturnya. Jika tak ada kabel tersebut Zaidi memastikan dia juga meninggal dunia. Dia hanya bisa melihat cahaya dengan samar-samar saat digulung ombak. “Kalau tidak ada kabel saya meninggal, itu napas terakhir,†katanya.
Air berangsur-angsur surut. Zalidi lalu memanjat sebuah pohon. Memanggil-manggil anaknya yang entah ke mana dibawa air. Selama 15 kali anaknya tak juga membalas teriakan sang ayah. Zaidi akhirnya memutuskan pulang ke rumah di Kelurahan Tondo. Sebab, dua anaknya Haikal Lamuhamad (12) dan Khusnul Khatimah (10) masih berada di rumah.
Berjalan tetapi lumpur keluar disekujur tubuh. Mulai dari telinga, hidung hingga mulut. Zalidi berjuang keras agar sampai di rumahnya. Akhirnya seseorang mengangkutnya dengan sepeda motor untuk sampai di rumahnya.
“Saya hadang di jalan kendaraan, tapi tidak ada yang peduli. Akhirnya ada orang Tondo juga yang mengantar saya karena satu tujuan,†jelasnya. Tiba di rumahnya, dia kaget tak ada lagi kedua anaknya. Ternyata tetangga telah menyelamatkan. Kemudian datang relawan dan membawanya ke Rumah Sakit Undata untuk mendapat perawatan medis.
“Saya bilang ke perawat jangan dulu tangani saya, yang laen dulu karena ada yang putus tangan. Saat jam 3 pagi, Rumah Sakit Undata mati lampu. Saya putuskan pulang,†terangnya.
Keesokan harinya pada Sabtu (29/10), kaki hingga paha Zalidi bengkak. Rupanya dampak dari terseret tsunami. Akhirnya dia meminta keluarganya untuk mencari sang istri. Saat terbaring sekitar pukul 07.30 Wita, polisi membawa anaknya. Tetapi, tatapannya masih kosong.
“Anak saya di atas genteng dengan empat orang dewasa. Katanya ada yang mendorong. Jam 3 pagi dia dievakuasi di atas genteng,†tuturnya.
Hari ketiga pada Ahad (30/10), Zaidi memilih mencari istrinya. Sebab, pencarian sehari sebelumnya oleh keluarganya tak berhasil. Rumah Sakit Bhayangkari dan Undata didatangi. Zalidi sempat kesulitan mencari istrinya karena wajah semua jenazah telah membengkak.
“Ada persis baju tapi celana beda. Di Undata juga saya periksa satu per satu jenazah,†katanya. Akhirnya, pencarian membuahkan hasil. Dia menemukan istrinya di tempat pematangan garam di Pantai Talise. Seluruh jenazah telah diindentifikasi, terisa istrinya.
“Sepertinya dia menunggu suaminya untuk menjemput,†ucapnya lirih. “Saya mau pecah menangis hanya saya tahan,†imbuhnya.  Kemudian jenazah istrinya dievakuasi ke keluarganya untuk dimakamkan. Selama beberapa hari mereka tinggal di rumah keluarganya. Tetapi, anaknya bermimpi bahwa sang istri meminta mereka kembali ke rumah.
“Dalam mimpi, katanya mamanya bilang pulang, tapi anaku takut karena laut dekat rumah,â€Â ujarnya. “Saya senang sekaligus sedih, anak selamat istri saya tidak selamat,†imbuhnya.
Kota Palu memang mulai pulih kembali. Tetapi Zaidi masih terus mengingat kenangan di atas sepeda motor itu. Selain itu, juga teringat bagaimana Kamis (27/10) dan Jumat pagi (28/10) sang istri membangunkannya dari tidur dengan begitu mesra, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
“Sama sekali tidak ada firasat, tapi hari Kamis dan Jumat istri bangunkan saya dengan mesra tidak seperti sebelum sebelumnya,†tuturnya. (***)
