Hargo.co.id MELBOURNE – Kecelakaan yang menimpa Fernando Alonso di GP Australia bisa saja berakhir maut. Namun, Alonso membebaskan diri dari mobil MP4-31 yang hancur lebur tanpa terluka. Langkah-langkah pertamanya sekeluar dari mobil benar-benar membuktikan bahwa faktor keamanan mobil Formula 1 telah berada pada level mumpuni.
Bukan cuma konstruksi monokok yang membuat tubuh pembalap seperti dikepung dinding pengaman. Namun, posisi duduk di dalam kokpit juga ikut memengaruhi. Pada dasarnya, struktur bodi mobil F1 dibuat sekaku mungkin. Dengan begitu, tidak mungkin terjadi benturan di dalam kokpit saat kecelakaan.
Selama bertahun-tahun dan setelah melewati berbagai kecelakaan maut yang merenggut nyawa pembalap, sistem pengamanan mobil F1 terus dikembangkan. Apa saja yang memengaruhi konstruksi tersebut?
Pertama dan yang paling mendapat perhatian besar adalah nosecone atau hidung mobil.
Bagian tersebut harus menjalani uji paling penting: crash test atau uji tabrak. Tim-tim akan membuat bentuk hidung yang bisa mengurangi bobot mobil, menambah keuntungan aerodinamika, tetapi di saat yang sama harus tetap lulus uji tabrak.
Bagian berikutnya adalah konstruksi pemasangan ban. Ban dipasang sedemikian rupa agar saat terjadi kecelakaan tidak mudah terlepas.
Wheel tether diperkenalkan pada 2001 menyusul kecelakaan yang menimpa Henry Surtees di Formula 2. Ban mobil rivalnya terlepas dan menghajar kepalanya. Akibatnya fatal. Surtees tewas.
