Agil menekankan bahwa teknikal meeting ini untuk memantapkan pemahaman peserta terkait aturan lomba, penilaian, serta teknis pelaksanaan yang akan digunakan. Dimana, keseluruhan proses ini juga menjadi persiapan menuju tahapan pra-nasional, yang mensyaratkan pengiriman karya berbentuk video dan seleksi daring untuk beberapa cabang.
Sementara itu, Salah satu dewan hakim nasional MTQ, Rusdin Djibu, turut hadir memberikan arahan dan catatan penting dalam pembinaan peserta. Ia mengingatkan agar peserta tidak terpaku pada jawaban hafalan atau materi yang monoton.
“Fahmil Qur’an itu bukan soal menghafal kunci jawaban. Jawaban boleh berbeda, asalkan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis yang sahih. Demikian juga Syahril, jangan hanya menghafal, tapi pahami dan kembangkan dengan nalar dan analisis,” Ucap Rusdin
Lebih jauh, Rusdin mengusulkan agar ke depan, pelaksanaan MTQ di UNG melibatkan dewan hakim nasional sejak tahap seleksi tingkat fakultas. Tujuannya, agar para hakim bisa lebih dini menilai potensi peserta yang layak maju ke tingkat universitas.
“Dengan begitu, fakultas pun akan terdorong untuk mengirimkan peserta yang benar-benar siap dan berkompeten, bukan sekadar mewakili. Ini penting agar tiap fakultas turut menjaga nama baiknya dan berkontribusi nyata dalam prestasi MTQ UNG,” tuturnya.
Ketua panitia, Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I., menyampaikan harapannya agar MTQ tingkat universitas ini
mampu menjadi ajang lahirnya bibit unggul untuk mewakili UNG di kancah nasional.
“Semoga dari sini kita temukan finalis yang bukan hanya mampu bersaing, tapi juga membawa prestasi terbaik untuk UNG ke depan,” tutupnya.
Semangat kebersamaan dan komitmen menjaga mutu diharapkan dapat menjadikan MTQ tingkat universitas ini bukan hanya menghasilkan juara,
tetapi juga menguatkan budaya Qur’ani di lingkungan akademik Universitas Negeri Gorontalo. (Mg 12)












