Hargo.co.id, GORONTALO – Gelaran Pekan Nasional (PENAS) XVII Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) 2026 tak hanya menjadi ajang pertemuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga membawa berkah ekonomi bagi masyarakat Gorontalo.
Kehadiran ribuan peserta, pendamping, dan tamu dari berbagai daerah terbukti menggerakkan aktivitas usaha rakyat di berbagai sektor.
Sejak peserta PENAS mulai berdatangan, kawasan pusat kegiatan dan sejumlah titik strategis di Kota Gorontalo dipadati pengunjung. Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya omzet pedagang kuliner, pelaku UMKM, hingga jasa transportasi lokal.
Salah satu pedagang makanan, Rogi (28), mengaku penjualannya melonjak dibanding hari-hari biasa. Ramainya pengunjung membuat dagangannya laris sejak pagi hingga malam hari.
“Alhamdulillah, penjualan meningkat cukup signifikan. Yang paling banyak dicari pengunjung itu nasi goreng dan ayam lalapan,” ujarnya.
Mengantisipasi tingginya permintaan selama PENAS berlangsung, Rogi menambah persediaan bahan baku jauh sebelum acara dimulai. Langkah itu dilakukan agar kebutuhan pelanggan tetap terpenuhi meski jumlah pembeli terus bertambah.
Menurutnya, kegiatan berskala nasional seperti PENAS memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha kecil karena mampu menghadirkan pasar baru dan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.
Dampak positif serupa juga dirasakan para pengemudi bentor, transportasi khas Gorontalo yang menjadi salah satu pilihan mobilitas peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan PENAS XVII.
Muliadi (42), seorang pengemudi bentor, mengaku pendapatannya meningkat karena tingginya mobilitas peserta dan tamu yang membutuhkan layanan transportasi menuju lokasi kegiatan, hotel, penginapan, hingga berbagai destinasi wisata dan kuliner.
“Dari pagi sampai malam cukup banyak penumpang. Kebanyakan peserta PENAS yang ingin ke lokasi acara, hotel, tempat makan, atau jalan-jalan di Kota Gorontalo,” katanya.
Menariknya, banyak tamu dari luar daerah yang mengaku penasaran dengan bentor karena kendaraan tersebut tidak ditemukan di daerah asal mereka. Hal itu menjadi pengalaman tersendiri bagi Muliadi yang sekaligus memperkenalkan budaya dan keunikan Gorontalo kepada para pengunjung.
“Banyak yang bilang bentor unik. Mereka senang naik bentor dan bertanya banyak tentang Gorontalo,” tuturnya.
Meski aktivitas lalu lintas di sejumlah ruas jalan meningkat selama pelaksanaan PENAS, kondisi tersebut justru menjadi peluang bagi para pelaku usaha jasa untuk memperoleh lebih banyak pelanggan.
Para pedagang dan pengemudi bentor berharap event nasional seperti PENAS dapat semakin sering digelar di Gorontalo.
Selain menjadi sarana promosi daerah, kegiatan tersebut dinilai efektif mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara langsung,
mulai dari sektor perdagangan, UMKM, transportasi, hingga jasa pendukung lainnya.
PENAS XVII pun tidak hanya meninggalkan manfaat di bidang pertanian dan perikanan, tetapi juga menghadirkan efek berganda yang dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat akar rumput. Dampak ekonomi inilah yang menjadi salah satu wajah sukses penyelenggaraan PENAS di Bumi Serambi Madinah.(Awl)












