Syukur alhamdulillah, pada 2006, yang kami harapkan jadi kenyataan. Survei Nielsen waktu itu untuk kali pertama (dalam sejarah!) menyatakan Jawa Pos sebagai koran dengan pembaca terbanyak. Sesuatu yang unik, karena untuk kali pertama koran dari luar Jakarta menjadi nomor satu.
Berarti Jawa Pos telah berhasil meregenerasi pembaca, di saat koran-koran lain terus menua bersama pembacanya.
Kebijakan punya pembaca muda ini pun diterapkan di koran-koran lain di grup Jawa Pos. Dengan berbagai bentuk, nama, dan pola. Banyak yang sukses luar biasa di wilayah masing-masing. Seperti Xpresi di Kaltim Post, KeKer di Fajar Makassar, dan lain-lain.
Koran-koran Jawa Pos Groupdi berbagai wilayah itu, banyak yang masing-masing punya tiras dan pembaca lebih besar dari koran-koran di Jakarta yang mengaku sebagai koran nasional!
Tidak lama setelah DetEksi terbit, rupanya juga “menginsipirasi†koran-koran kompetitor, yang mencoba punya halaman muda dengan berbagai bentuk, nama, dan pola.
Bangga juga rasanya ditiru kompetitor!Apalagi ketika ada yang mencoba meniru sama persis dengan DetEksi!
Benar juga bunyi kutipan lama: Imitation is the sincerest form of flattery (cari sendiri artinya ya…).
Buntut dari DetEksi juga panjang. Lahir DBL, liga basket SMA se-Indonesia yang aslinya bernama “DetEksi Basketball Leagueâ€. Lahir banyak even lain yang melibatkan puluhan ribu, bahkan ratusan ribu anak muda.
