Hargo.co.id, GORONTALO – Festival Budaya Jawa Tondano (Fesbujaton) Ke-XX Tahun 2026 kembali menegaskan perannya sebagai wadah pelestarian budaya sekaligus penguat jati diri masyarakat Jawa Tondano (Jaton) yang tumbuh dari perpaduan budaya Jawa dan Minahasa.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Gorontalo, Tonny S. Junus, saat menutup rangkaian kegiatan Fesbujaton di Lapangan PORSID, Desa Sidomukti, Kecamatan Mootilango, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Tonny, festival budaya tidak hanya menjadi sarana hiburan masyarakat, tetapi juga memiliki makna strategis dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
“Fesbujaton menjadi ruang bersama untuk merawat identitas masyarakat Jawa Tondano. Tradisi yang diwariskan harus terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman dan tetap dikenal oleh generasi penerus,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan komunitas Jaton telah memberikan warna tersendiri dalam keberagaman budaya di Kabupaten Gorontalo.
Maka dari itu, berbagai tradisi, kesenian, dan adat istiadat yang dimiliki perlu terus dipelihara sebagai bagian dari kekayaan daerah.
Lebih lanjut, Tonny mengatakan festival budaya juga mampu mempererat hubungan sosial antarwarga.
Semangat persaudaraan yang lahir dari proses akulturasi budaya selama bertahun-tahun menjadi modal penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat.
Selain aspek pelestarian budaya, Fesbujaton dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Berbagai atraksi seni dan budaya yang ditampilkan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Pada kesempatan tersebut, Tonny menyampaikan apresiasi kepada panitia pelaksana, tokoh masyarakat, peserta,
serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan Fesbujaton Ke-XX.
Ia berharap festival ini terus menjadi agenda budaya yang mampu memperkuat identitas masyarakat Jawa Tondano
sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya daerah untuk generasi mendatang.(Adv)












