Melalui berbagai penelitian, Prof. Sunarty Eraku merumuskan pendekatan ekowisata berbasis kearifan lokal yang berfokus pada tiga pilar utama: pelestarian ekologi, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Salah satu keberhasilan nyata yang dipaparkan dalam orasi ilmiah adalah pengembangan kawasan wisata Botubarani, yang berhasil mentransformasi masyarakat dari nelayan menjadi pelaku UMKM dan pemandu wisata, sembari tetap menjaga habitat hiu paus.
Ia juga menyoroti potensi budaya suku Bajo di Torosiaje serta tradisi Tulude di Pohon Cinta sebagai kekayaan naratif yang dapat dikembangkan menjadi wisata edukatif dan lestari.
Lebih lanjut, Prof. Sunarty Eraku menyampaikan bahwa kawasan-kawasan ini telah difungsikan sebagai laboratorium hidup bagi mahasiswa UNG,
memungkinkan pembelajaran berbasis pengalaman langsung di lapangan. Kolaborasi dengan komunitas, menurutnya,
menjadi kunci penting dalam menciptakan model pengembangan wisata yang inklusif dan berkelanjutan.












