GORONTALO, Hargo.co.id – Pangsa pasar sulaman khas Gorontalo Karawo makin terbuka lebar. Tak hanya di kancah nasional, sulaman buatan tangan (handmade) itu juga telah merambah dunia internasional. Hanya saja pemenuhan kebutuhan yang dari waktu ke waktu makin tinggi itu terkendala pada terbatasnya sumber daya manusia (SDM) perajin karawo.
Menyikapi permasalahan tersebut, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Gorontalo kembali melahirkan terobosan. Setelah suskes membawa karawo mendunia lewat New York Fashion Week, kini BI Perwakilan Gorontalo mengagas Sekolah Karawo. Lewat sekolah karawo diharapkan bisa menghasilkan para generasi baru perajin sulaman Karawo.
Gagasan pendirian sekolah karawo itu mengemuka saat silahturahmi Direktur Utama Gorontalo Post Mohamad Sirham dengan Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo Ricky Perdana Gozali dan Analis Eksekutif, Kepala Divisi Supervisi Strategis, Manajemen Kinerja dan SDM KPwDN Departemen Regional 2 BI Suryono, Selasa (30/1).
“Karawo tak bisa dibuat dengan mesin, seperti batik selain ditulis tangan bisa juga menggunakan alat cetak. Karawo produksinya handmade. Karena itu untuk memenuhi kebutuhan pasar yang luas maka dibutuhkan tenaga perajin yang banyak,†ungkap Ricky.
Lebih lanjut Ricky mengemukakan, pendirian sekolah karawo ini sudah mendapat respon positif Gubernur BI Agus Martowardojo. Sejalan hal itu, sekolah karawo akan bertempat di gedung kantor BI yang baru di Jl. Bypass Tamalate, Kota Gorontalo.
“Untuk pengajarnya adalah para perajin yang sudah senior,†ujar Ricky. Menurut Ricky, selain bagian dari pemenuhan kebutuhan pasar, penyediaan SDM perajin lewat sekolah karawo mejadi upaya regenerasi. Dalam artian untuk mempertahankan eksistensi karawo di masa mendatang.
“Termasuk untuk menciptakan mode-mode karawo yang mengikuti perkembangan zaman,†kata Ricky.
Sementara itu, Direktur Utama Gorontalo Post Moh. Sirham mendukung langkah BI untuk mendirikan Sekolah Karawo. Bahkan Sirham menyarankan bila sekolah karawo tersebut tak hanya melahirkan para perajin/pembuat karawo, tetapi bisa melahirkan para desainer karawo.
“Baik itu desainer motif-motif karawo ataupun desainer pakaian karawo yang disesuaikan dengan mode-mode masa kini. Sehingga Karawo itu tidak identik dengan orang-orang tua, tetapi bisa menjadi pakaian segala kalangan. Termasuk anak-anak masa kini,†tutur Sirham.
Menurut Sirham, salah satu kendala yang dihadapi dalam pemasaran karawo adalah kontinyunitas produk dengan waktu produksi yang cepat dan efesien.”Jika tidak dilakukan regenerasi dari sekarang, sulit kita memenuhi tuntutan pasar,†ujar Ketua Forum Jurnalis Ekonomi Bisnis (Forjes) Gorontalo itu.
Sementara itu, sulaman karawo masih akan kembali mejeng di Negeri Paman Sam tersebut, tahun ini juga. Ricky mengemukakan, bahwa kain sulaman karawo salah satu kerajinan terpilih yang akan dipamerkan pada ajang New York Now 2018 di Amerika Serikat. Rencananya, New York Now akan digelar pada Agustus 2018 ini. “New York Now merupakan ajang untuk memamerkan sekaligus mempromosikan produk kerajinan dari UMKM terpilih Indonesia,” ujar Ricky.
Ricky pun menceritakan, terpilihnya karawo pada ajang New York Now tersebut bermula saat acara kurasi produk kerajinan UKM Indonesia yang dilakukan langsung oleh kurator Internasional dari New York, Jeniffer Isaacson. Kurasi tersebut dilakukan di dua tempat yang berbeda, yakni masing-masing di kantor BI Perwakilan Palembang dan Yogyakarta.
Dan dari sekian banyak produk kerajinan yang ditampilkan, hanya ada enam kerajinan yang langsung terpilih dan dinyatakan layak untuk dijual ke pasar Internasional, dimana salah satunya adalah karawo.
“Kalau kerajinan lain masih sempat dikomentari. Tapi, ada enam kerajinan, termasuk karawo, yang langsung dipilih tanpa komentar. Sulaman Karawo memang sudah dikenal karena handmade-nya,” sambung Ricky. Dengan demikian, sulaman karawo untuk pasar Internasional kian terbuka lebar.(axl/hg)
