Sedari SD Saya bersekolah sambil berjualan. Biskuit burung, Biskui Bilibidu dan biskuit pistol saya jajakan di sela jam pelajaran.
Pernah pula saya menjual halua—kukis kacang dengan adonan gula merah kental, lengket di jari, tetapi manis di ingatan. Dari sana saya belajar menakar waktu, menghitung modal, dan menjaga kepercayaan teman-teman yang menjadi pembeli. Tanpa sadar, saya sedang mempraktikkan keteraturan ekonomi dalam skala paling mikro.
Pengalaman itu berlanjut pada kerja-kerja yang lebih berat. Saya pernah menjual rumput makanan sapi dan kuda—pekerjaan yang menuntut disiplin tanpa kompromi: rumput harus segar, pengantaran tepat waktu.
Pernah pula saya mengontrak diri memandikan kuda tetangga untuk membiayai sekolah. Kuda tidak mengenal negosiasi. Jika jadwal dilanggar, ia gelisah. Di situ saya belajar bahwa keteraturan bukan konsep abstrak—ia syarat keberlangsungan hidup.
Saat kuliah, keteraturan itu terus diuji. Saya mengemudikan bendi, kendaraan tradisional yang ditarik seekor kuda, dengan sistem kontrak kepada pemilik sebesar Rp2.500 per ekor per hari. Setiap pagi saya memastikan kuda siap, tali kekang rapi, rute dipahami, dan penumpang dihormati.












