Persepsi

Sisa Kemegahan: Batu Karang Putih Menanti Ajal di Tengah Ketidakpedulian

×

Sisa Kemegahan: Batu Karang Putih Menanti Ajal di Tengah Ketidakpedulian

Share this article
Sisa Kemegahan_ Batu Karang Putih Menanti Ajal di Tengah Ketidakpedulian
Kondisi destinasi wisata Batu Karang yang terletak di Desa Lamu, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. (Foto: Agnes Novianti/Mahasiswa magang UNG)

Oleh: Agnes Novianti
Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG)

Berita Terkait:  Tragedi Negeri Muslim yang Dijadikan Medan Rampasan

KEINDAHAN yang pernah memikat ribuan pengunjung kini hanya tinggal kenangan.

Wisata Batu Karang Putih di Desa Lamu, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, yang diresmikan pada tahun 2018, kini terbengkalai tanpa kepastian.

Berita Terkait:  Sekolah yang Memuliakan Manusia: Make Up School sebagai Jalan Kebudayaan

Destinasi yang dulunya menjadi primadona wisata lokal ini seakan menunggu ajalnya di tengah minimnya perhatian dari berbagai pihak.

Perjalanan sekitar satu jam lebih dua menit dari pusat Kota Gorontalo tidak lagi sebanding dengan pemandangan yang tersaji, ketika fasilitas rusak dan lingkungan tak terawat menyambut para pengunjung yang masih setia datang.

Berita Terkait:  Menjaga Ingatan, Menumbuhkan Karakter

Tujuh tahun silam, Batu Karang Putih menjadi magnet wisatawan yang ingin menikmati pesona alam pantai Gorontalo.

Formasi karang putih yang eksotis berpadu dengan birunya air laut menciptakan panorama yang instagramable dan menenangkan.

Berita Terkait:  Nilai Tukar Petani Indonesia dan Paradoks Tingginya Harga Beras

Pada masa kejayaannya, area wisata ini selalu ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan dan hari libur nasional. Suara tawa pengunjung dan dentingan kamera memotret keindahan alam menjadi pemandangan biasa di lokasi ini.

Namun, semua itu kini hanya tinggal cerita bagi warga sekitar yang menyaksikan transformasi drastis destinasi wisata kebanggaan mereka.

Berita Terkait:  ASN Ilusi Kelas Menengah

Kondisi memprihatinkan mulai terlihat dari kurangnya perawatan fasilitas yang ada. Bangunan-bangunan penunjang wisata tampak kusam, cat mengelupas, dan beberapa bagian bahkan mulai rapuh karena tidak pernah direnovasi.

Toilet umum yang semestinya bersih dan nyaman justru menjadi sumber ketidaknyamanan. Jalur-jalur pedestrian retak dan ditumbuhi rumput liar, mengurangi kenyamanan berjalan menyusuri area wisata.

Berita Terkait:  Dari Tengah Sawah, Jurnalisme Bertumbuh: Menyambut Konferwil AMSI Gorontalo 2026

Sampah berserakan di beberapa titik menambah kesan kumuh yang kontras dengan keindahan alam yang masih tersisa.

Minimnya penjual makanan dan minuman juga membuat pengunjung kesulitan memenuhi kebutuhan dasar selama berwisata, memaksa mereka untuk membawa bekal sendiri atau memilih destinasi lain yang lebih lengkap fasilitasnya.

Berita Terkait:  Kedudukan Peraturan Presiden dalam Sistem Perundang-undangan di Indonesia

Dampak dari ketidakpedulian ini sangat terasa pada penurunan drastis jumlah pengunjung. Jika dulu area parkir selalu penuh, kini hanya beberapa kendaraan yang terparkir sepi.

Para pedagang yang dulunya berjualan di sekitar lokasi terpaksa mencari mata pencaharian lain karena sepinya pembeli. Masyarakat setempat yang mengharapkan pemasukan dari sektor pariwisata kini harus kembali mengandalkan pekerjaan konvensional.

Berita Terkait:  Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

Potensi ekonomi yang seharusnya bisa dikembangkan dari destinasi wisata ini sia-sia terbuang. Ironisnya, keindahan alam Batu Karang Putih masih tetap ada, namun lingkungan yang tidak terawat telah mengubur potensi besar yang dimilikinya.

Batu Karang Putih kini berada di persimpangan antara kebangkitan atau kehancuran total. Diperlukan perhatian serius dari pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat untuk menghidupkan kembali destinasi ini.

Berita Terkait:  Anak yang Dapat Menerima Pembelajaran dengan Baik dari Gurunya

Perbaikan infrastruktur, pengelolaan kebersihan yang konsisten, serta pemberdayaan ekonomi lokal melalui UMKM makanan dan cinderamata menjadi langkah mendesak yang harus dilakukan.

Tanpa upaya nyata dan komitmen jangka panjang, wisata yang pernah menjadi kebanggaan Gorontalo ini akan benar-benar menjadi sejarah kelam tentang bagaimana ketidakpedulian dapat membunuh potensi alam yang luar biasa. (MG-18) 

Berita Terkait:  Dari Parkir ke Pembangunan: Peran dan Eksistensi Retribusi Parkir di Kota Gorontalo