Persepsi

Menjaga Ingatan, Menumbuhkan Karakter

×

Menjaga Ingatan, Menumbuhkan Karakter

Sebarkan artikel ini

Refleksi Antropolog Alumni UNHAS atas Disertasi Dr. Melissa Wala: “Memori Kolektif dan Kontestasi Kekuasaan dalam Pemanfaatan Ruang Kawasan Benteng Otanaha di Kota Gorontalo”

 

Oleh:
Husin Ali
Antropolog, Alumni Universitas Hasanuddin

 

ADA hari-hari tertentu di dunia akademik yang tidak sekadar dicatat sebagai peristiwa ilmiah, melainkan menjadi peristiwa batin. Salah satunya adalah Sidang Promosi Doktor Melissa Wala di Program Studi Doktor Ilmu Antropologi Universitas Hasanuddin, Makassar — sebuah ruang yang pada hari itu bukan hanya dihiasi suasana perjuangan mempertahankan keilmuan untuk mendapatkan gelar, tetapi juga nilai, rasa, dan air mata yang jujur.

Saya hadir di ruang itu bersama para akademisi dan tokoh-tokoh puncak pimpinan dari Gorontalo, Makassar, serta daerah lainnya. Kehadiran mereka menandai penghormatan bagi dunia ilmu pengetahuan, apalagi di tengah deretan guru besar dan para penguji terhormat. Salah satunya adalah Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad, mantan Gubernur Gorontalo, mantan Menteri, dan mantan Wakil Ketua MPR RI, yang hadir sebagai penguji eksternal — figur yang menggabungkan kedalaman pengalaman politik dengan kepekaan terhadap nilai budaya dan ilmu sosial.

Berita Terkait:  Fenomena Bunuh Diri Dalam Tinjauan Neurologi

Namun, keagungan suasana akademik itu mencapai puncak paling manusiawi ketika Dr. Melissa meneteskan air mata. Saat ia berbicara tentang masyarakat di sekitar Benteng Otanaha — para petani, penjaga situs, dan ibu-ibu penjual minuman yang setia menjaga tangga-tangga sejarah itu — suaranya bergetar. Air mata itu bukan kelemahan, tetapi kejujuran. Ia menangis karena menyadari bahwa di balik tumpukan teori, terdapat kehidupan yang sungguh-sungguh nyata dan berharga.

Itulah momen ketika saya, sebagai sesama anak didik maha guru amat terpelajar, Prof. Dr. Hamka Naping, M.A., merasa terpanggil menulis refleksi ini. Saya menulis bukan semata karena rasa bangga, tetapi karena saya merasakan denyut ilmiah yang sama antara karya Dr. Melissa dan disertasi saya sendiri — dua karya yang berakar di ruang yang sama, yaitu Benteng Otanaha, dan tumbuh di bawah asuhan ilmuwan besar yang sama.

Berita Terkait:  Dari Tengah Sawah, Jurnalisme Bertumbuh: Menyambut Konferwil AMSI Gorontalo 2026

1. Di Bawah Naungan Maha Guru Amat Terpelajar

Prof. Dr. Hamka Naping adalah sosok yang kami kenal bukan hanya sebagai promotor, tetapi penanam jiwa ilmu. Beliau mengajarkan kami untuk melihat manusia dengan empati, bukan dengan prasangka; untuk menulis dengan rasa, bukan dengan jarak. Dalam pandangan beliau, antropologi sejati adalah ilmu yang menumbuhkan karakter manusia, bukan sekadar pengetahuan tentang perilaku manusia.

Dari semangat itulah saya menulis disertasi tentang pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, dengan siswa-siswa di sekitar Benteng Otanaha sebagai fokus penelitian. Saya ingin tahu bagaimana nilai-nilai sosial seperti gotong royong, kesantunan, dan kesetiaan kepada lingkungan diwariskan kepada generasi muda melalui praktik budaya sehari-hari.

Berita Terkait:  Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini

Dan kini, Dr. Melissa — dengan bimbingan yang sama — mengangkat memori kolektif dan kontestasi kekuasaan dalam pemanfaatan ruang Benteng Otanaha. Keduanya, tanpa direncanakan, seolah berdialog satu sama lain. Karya saya berbicara tentang pembentukan karakter melalui nilai lokal, sementara karya Dr. Melissa berbicara tentang bagaimana nilai lokal itu hidup, bertahan, dan dinegosiasikan di tengah kekuasaan dan perubahan zaman.

2. Memori Kolektif Sebagai Jantung Budaya

Dalam disertasinya, Dr. Melissa menemukan bahwa masyarakat Gorontalo masih menyimpan memori kolektif yang kuat terhadap Benteng Otanaha. Ingatan ini bukan hanya milik para tetua adat, tetapi juga diwariskan melalui cerita lisan, ritual tradisional, dan simbol-simbol ruang. Benteng bukan sekadar bangunan tua; ia adalah ruang makna, tempat masyarakat meneguhkan identitasnya sebagai bagian dari sejarah panjang Gorontalo.

Namun, memori ini kini menghadapi ancaman pelan namun pasti: modernisasi, pariwisata massal, dan kebijakan budaya yang sering memisahkan rakyat dari ruang sejarahnya. Di sinilah pentingnya antropologi: mengembalikan manusia ke pusat ruang kebudayaannya sendiri.

Berita Terkait:  Apa Kabar Transformasi Digital? Apakah Sudah Sesuai dengan Kompetensi dan Kewenangannya..!!

Dr. Melissa mengingatkan bahwa memori kolektif adalah fondasi karakter sosial. Ketika masyarakat kehilangan ingatan terhadap ruang dan sejarahnya, mereka juga kehilangan sebagian dari moral dan identitasnya.

7 Ide-Ide Besar dan Temuan Konseptual Dr. Melissa Wala

Dalam penelitiannya, Dr. Melissa Wala menampilkan rangkaian ide besar yang melampaui batas riset deskriptif. Ia mengangkat benteng bukan hanya sebagai bangunan sejarah, tetapi sebagai metafora kebudayaan — ruang yang hidup, yang menyimpan sekaligus menegosiasikan makna antara masyarakat, negara, dan kekuasaan.

Berita Terkait:  Menempatkan Kewenangan Jalan Secara Tepat

Beberapa gagasan penting yang muncul dari disertasinya adalah sebagai berikut:

1. Memori Kolektif sebagai Moral Sosial. Dr. Melissa menunjukkan bahwa ingatan kolektif masyarakat bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi sumber moral sosial yang membentuk solidaritas dan karakter komunitas. Ketika masyarakat menjaga kisah dan ritual seputar Benteng Otanaha, sesungguhnya mereka sedang mempertahankan jiwa moral kebudayaan Gorontalo.

2. Ruang sebagai Arena Kuasa dan Partisipasi. Benteng Otanaha dilihat bukan hanya sebagai situs, melainkan sebagai ruang sosial-politik tempat negara, masyarakat, dan kapital saling berinteraksi. Melalui penelitian lapangan yang mendalam, Dr. Melissa menunjukkan adanya ketegangan antara kekuasaan negara dan kekuasaan simbolik masyarakat lokal — namun juga peluang kolaborasi melalui dialog budaya.

Berita Terkait:  Cegah Perilaku Bunuh Diri dengan Kecerdasan Emosional 

3. Pelestarian Berbasis Keterlibatan. Ia menawarkan gagasan pelestarian yang tidak hierarkis, melainkan partisipatif. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi “penonton” atau “objek kebijakan,” tetapi harus diposisikan sebagai pemilik nilai dan pewaris makna. Inilah bentuk keadilan budaya yang menempatkan rakyat sebagai subjek pelestarian.

4. Rekonsiliasi antara Modernitas dan Tradisi. Salah satu temuan penting Dr. Melissa adalah bahwa masyarakat lokal tidak menolak pembangunan atau wisata modern — mereka hanya menolak ketika pembangunan menghapus makna. Oleh karena itu, ia mengusulkan pendekatan yang menyatukan nilai modernitas dengan roh tradisi, agar ruang-ruang budaya tetap hidup tanpa kehilangan jati diri.

Berita Terkait:  Pariwisata Gorontalo: Potensi Ekonomi, Ancaman Ekologis, dan Risiko Greenwashing Tourism

5. Benteng sebagai Ruang Pendidikan Kultural. Benteng Otanaha dipahami sebagai ruang edukatif, tempat nilai karakter bangsa dapat ditumbuhkan melalui interaksi antar generasi.

Dalam pandangan Dr. Melissa, pelestarian ruang budaya adalah bagian dari pendidikan karakter bangsa. Ide ini beririsan kuat dengan gagasan saya sendiri tentang pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Berita Terkait:  Iing Casdirin: Tekun, Bersahaja, dan Konsisten

Dari ide-ide besar ini, Dr. Melissa menghadirkan pandangan segar: bahwa pelestarian budaya bukan hanya urusan teknis arkeologi, melainkan proses membangun manusia seutuhnya. Bahwa memori kolektif bukan hanya arsip masa lalu, tetapi cermin masa depan moral bangsa.

3. Kontestasi Ruang dan Kuasa

Disertasi Dr. Melissa juga memperlihatkan bagaimana Benteng Otanaha menjadi arena kontestasi kekuasaan. Ada tiga aktor yang memainkan peran penting: masyarakat lokal, Dinas Pariwisata, dan Balai Pelestarian Kebudayaan.

Ketiganya bernegosiasi, kadang berselisih, dalam memaknai apa itu pelestarian. Namun, bagi antropologi, yang paling menarik bukanlah konfliknya, melainkan cara masyarakat lokal bertahan di tengah kuasa.

Mereka mungkin tidak memiliki kekuasaan formal, tetapi mereka memiliki kekuatan simbolik — ingatan, tradisi, dan rasa kepemilikan yang tak dapat digantikan oleh dokumen administratif.

Berita Terkait:  Sepuluh Ribu Rupiah dan Harga Sebuah Kehidupan

Dari sinilah, kita belajar bahwa kekuasaan sejati bukanlah kemampuan mengatur, tetapi kemampuan menghargai. Pelestarian tanpa partisipasi adalah kehilangan makna; dan kebijakan tanpa empati hanyalah prosedur tanpa jiwa.

4. Benteng Otanaha: Sekolah Nilai dan Karakter

Bagi saya, temuan Dr. Melissa memperkaya pandangan saya sendiri bahwa Benteng Otanaha adalah sekolah nilai yang terbuka bagi siapa saja yang mau belajar. Di sana, kita bisa membaca pelajaran tentang kerja keras dari tangan-tangan rakyat yang dulu membangun benteng dengan putih telur burung maleo.

Kita belajar tentang kesetiaan dari kisah rakyat Gorontalo yang mempertahankan benteng itu di tengah ancaman kolonial. Dan kita belajar tentang cinta tanah air, bukan dari simbol-simbol modern, tetapi dari tangga batu yang disusun dengan gotong royong dan doa.

Berita Terkait:  Halalbihalal dan Kesehatan Otak

Bagi pendidikan karakter, Benteng Otanaha bukan sekadar situs wisata, tetapi laboratorium moral bangsa. Nilai-nilai yang hidup di sekitarnya — kejujuran, kerendahan hati, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab terhadap sejarah — adalah fondasi bagi generasi muda untuk mengenal dirinya sebagai anak bangsa.

5. Refleksi Kealumnian Universitas Hasanuddin

Sebagai sesama alumni UNHAS, saya melihat karya Dr. Melissa sebagai buah dari karakter akademik yang khas Universitas Hasanuddin: berpikir tajam, bekerja jujur, menulis dengan hati, dan mengabdi dengan cinta kepada masyarakat. Di bawah bimbingan Prof. Hamka Naping, kami belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya alat untuk mengajar, tetapi juga cermin untuk mendidik diri sendiri. Dan pada hari itu, di ruang sidang promosi, saya melihat ilmu kembali menyatu dengan kemanusiaan.

Berita Terkait:  Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini

6. Penutup: Selamat Datang di Dunia Antropolog

Maka dengan sepenuh hati saya menulis: Selamat datang, Dr. Melissa Wala, di dunia antropolog. Dunia yang memerlukan ketajaman nalar sekaligus kelembutan rasa, dunia yang mengajarkan bahwa meneliti berarti memahami, dan memahami berarti mencintai.

Pertahankan karakter akademikmu, jaga nilai-nilai kealumnian Universitas Hasanuddin, dan teruslah menulis tentang manusia dengan kasih dan keberanian.

Benteng boleh berdiri tegak, tetapi karakter manusialah yang membuat sejarah tetap hidup.

Berita Terkait:  Dari Tengah Sawah, Jurnalisme Bertumbuh: Menyambut Konferwil AMSI Gorontalo 2026

Hari itu, di hadapan para guru besar, Prof. Fadel Muhammad, dan para tokoh puncak pimpinan dari Gorontalo, Makassar, serta berbagai daerah yang hadir, saya menyaksikan bukan hanya sidang ilmiah, tetapi peristiwa moral dan kebudayaan.

Saya menyaksikan air mata seorang ilmuwan perempuan yang lahir dari kearifan bangsanya sendiri. Dan di bawah pandangan lembut maha guru amat terpelajar, Prof. Dr. Hamka Naping, saya tahu — ilmu pengetahuan sejati masih hidup: ia hidup dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam ingatan yang tidak lekang oleh waktu.

Berita Terkait:  Pariwisata Gorontalo: Potensi Ekonomi, Ancaman Ekologis, dan Risiko Greenwashing Tourism

Ditulis oleh Husin Ali – Antropolog dan Alumni Universitas Hasanuddin, sebagai refleksi akademik dan penghormatan atas karya ilmiah Dr. Melissa Wala. Tulisan ini juga merupakan bentuk penghargaan kepada Prof. Dr. H. Hamka Naping, MA – Prof. Dr. H. Mahmud Tang, MA – Prof. Dr, Ansar Arifin, MS – Prof. Dr. Nurul ilmi Idrus, M.Sc: adalah maha guru amat terpelajar, dan Kaprodi yang luar biasa Dr. Muhammad Basir Said,MA: tokoh – tokoh Antropolog yang menanamkan nilai bahwa antropologi sejati adalah jalan untuk membangun karakter manusia melalui kearifan dan kasih.