Oleh: Fitra Usman
Mahasiswa FSB UNG
ADA bencana yang memang datang dari alam, dan adapula bencana yang sengaja dibuat untuk mempercepat adanya kiamat. Bukan Tuhan, melainkan manusia adalah tangan pertamanya.
Tentang tulisan ini sebagian pembaca mungkin sudah dapat menebak ke mana tulisan ini hendak bermuara: ke mana negara ketika bencana telah terjadi? Tetapi persoalannya lebih jauh dari sekadar mempertanyakan kehadiran negara.
Sebab semua orang tahu negara sebenarnya telah hadir. Ia telah memprediksi, menggelar rapat, mengeluarkan peringatan, memitigasi, mengerahkan satgas, hingga mengirim helikopter water bombing.
Justru disitulah titik yang patut dipersoalkan, mengapa sebuah negara yang telah mengetahui sebelum api api itu menyala, masih kelabakan menghitung anggaran setelah api habis menjilat hutan Kalimantan dan Papua?
Sejak April, tanda-tanda itu sudah dibicarakan di atas meja. Dalam Rakornas Pengendalian Karhutla pada 7 April 2026, BMKG memperingatkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dari normal.












