Hargo.co.id, GORONTALO – Besar harapan Kepala Satpol PP Provinsi Gorontalo, Taufik Sidiki, Kabupaten Bone Bolango menjadi role model bagi daerah lain dalam penegakan ketertiban dan disiplin pelajar.
Harapan ini disampaikan Taufik pada saat pelaksanaan kegiatan kampanye ketertiban, kawasan tanpa rokok, serta penanganan dan pencegahan HIV/AIDS yang dilaksanakan di lingkungan SMA 1 Suwawa, Kamis (10/7/2025).
“Saya orang Bone Bolango, pernah menjadi asisten di Pemkab Bone Bolango, dan bahkan Ibu Kepsek ini adalah leting saya waktu di SMP. Jadi, saya berharap Bone Bolango bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tertib dan bebas dari pelanggaran,” ujar Taufik Sidiki.
Kampanye Ketertiban, kawasan tanpa rokok, serta pencegahan dan penanganan HIV/AIDS di tingkat SMA/SMK se-Provinsi Gorontalo
merupakan program rutin yang dilaksanakan oleh Satpol PP Provinsi Gorontalo sebagai upaya memberikan edukasi
dan meningkatkan pemahaman siswa terkait pentingnya kedisiplinan dan hidup sehat.
Kegiatan tersebut bertujuan membangun kesadaran kolektif di kalangan pelajar mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang tertib, sehat, serta bebas dari asap rokok dan penyalahgunaan zat berbahaya.
Kampanye ini melibatkan berbagai pihak, di antaranya Satpol PP Provinsi Gorontalo, Dinas Kesehatan, serta instansi terkait lainnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Suwawa, Lisna Nalole dalam sambutannya, secara tegas meminta kepada Satpol PP Provinsi Gorontalo
untuk mengambil tindakan langsung terhadap siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah.
Bahkan, ia menyatakan siap apabila siswa yang melanggar tersebut harus diangkut ke kantor Satpol PP sebagai bentuk pembinaan dan efek jera.
“Saya tidak keberatan, bahkan saya minta kepada Satpol PP kalau ditemukan anak-anak kami merokok, silakan saja diangkut ke kantor Satpol. Nanti pihak sekolah yang akan menjemput. Itu mungkin bisa memberi efek jera,” ujar Lisna.
Dalam kesempatan tersebut, Lisna juga menyampaikan berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah,
termasuk soal kebiasaan merokok yang masih terjadi pada sebagian siswa, bahkan dengan dukungan orang tua.
Ia mengungkap ada siswa yang secara terang-terangan mengaku diberikan rokok oleh orang tuanya agar tidak rewel,
bahkan ada yang bisa menghabiskan satu hingga tiga bungkus per hari.
Lebih jauh, Lisna menegaskan bahwa meski sekolah berada di lingkungan yang relatif aman dan masih kental dengan nilai-nilai adat,
pengawasan dan kerja sama dengan berbagai pihak tetap sangat diperlukan.
“Saya sudah hampir delapan tahun di SMA 1 Suwawa. Dibandingkan dengan pengalaman saya sebelumnya di Bongomeme, di sini anak-anak masih tergolong sopan, dan belum ada kejadian ekstrem seperti perkelahian berdarah atau penyalahgunaan narkoba berat. Tapi merokok ini jadi perhatian serius karena sudah merambah kalangan pelajar,” jelasnya.
Lisna juga menuturkan bahwa ada beberapa kasus siswa dengan latar belakang kenakalan sejak SMP,
termasuk penggunaan lem dan bolos berkepanjangan, namun sebagian besar siswa di SMA 1 Suwawa
masih berada dalam kategori perilaku yang wajar dan dapat dibina.(Rls)












