Hargo.co.id, GORONTALO – Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Dutohe Barat, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Pemberdayaan Pensiunan Swasta untuk Pencegahan Hemoroid pada Ibu Hamil melalui Budidaya Mahkota Dewa dengan Teknik Hidroponik Berbasis Panel Surya”.
Sebanyak 30 pensiunan swasta berusia 60 hingga 69 tahun terlibat aktif dalam program yang memadukan aspek kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang digagas oleh tim dosen Poltekkes Kemenkes Gorontalo. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat didorong untuk lebih produktif sekaligus berkontribusi dalam mendukung kesehatan ibu hamil.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Siti Choirul Dwi Astuti, M.Tr.Keb., menjelaskan bahwa Desa Dutohe Barat dipilih karena menghadapi dua tantangan utama. Pertama, meningkatnya jumlah pensiunan pegawai swasta yang membutuhkan aktivitas produktif setelah memasuki masa purnatugas. Kedua, masih ditemukannya kasus hemoroid pada ibu hamil yang berpotensi menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik.
“Kondisi ini menjadi dasar lahirnya program yang tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas masyarakat, tetapi juga memperkuat upaya promotif dan preventif dalam bidang kesehatan ibu,” ujarnya.

Melalui program tersebut, para pensiunan mendapatkan pelatihan budidaya tanaman Mahkota Dewa menggunakan sistem hidroponik yang memanfaatkan energi panel surya. Teknologi ini dinilai efektif karena dapat mengatasi keterbatasan lahan sekaligus menekan biaya operasional, khususnya penggunaan listrik untuk pompa air.
Hasil budidaya tanaman Mahkota Dewa selanjutnya diarahkan sebagai bahan baku pembuatan supositoria herbal yang digunakan sebagai salah satu alternatif pendukung dalam pencegahan komplikasi hemoroid pada ibu hamil.
Program ini juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas kader kesehatan. Sebelum pelatihan dilaksanakan, sekitar 75 persen kader masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terkait pencegahan komplikasi hemoroid pada ibu hamil. Namun setelah mengikuti pelatihan dan demonstrasi, seluruh kader berhasil mencapai kategori pengetahuan baik.
Selain peningkatan pengetahuan, kader kesehatan juga menunjukkan peningkatan keterampilan dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil mengenai upaya pencegahan hemoroid melalui pemanfaatan tanaman Mahkota Dewa.
Perubahan serupa juga terlihat pada kelompok ibu hamil yang menjadi sasaran program. Sebelum penyuluhan, sekitar 80 persen peserta masih memiliki pemahaman yang rendah mengenai penyebab dan risiko hemoroid selama kehamilan.
Setelah mendapatkan edukasi, sebanyak 83,3 persen ibu hamil menunjukkan tingkat pengetahuan yang baik. Pendampingan penggunaan supositoria berbahan Mahkota Dewa juga menunjukkan hasil menggembirakan. Tingkat kepatuhan penggunaan mencapai 90 persen, sementara sekitar 80 persen peserta mengaku mengalami penurunan keluhan hemoroid selama masa pendampingan.
Ke depan, program ini akan terus diperkuat melalui pendampingan berkelanjutan, peningkatan kapasitas kader kesehatan, pembentukan kelompok budidaya tanaman obat keluarga, pengembangan media edukasi, hingga publikasi ilmiah dan hilirisasi hasil kegiatan.
Siti Choirul Dwi Astuti berharap Desa Dutohe Barat dapat berkembang menjadi desa percontohan dalam penerapan pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna yang mendukung kesehatan ibu hamil sekaligus membantu menekan angka komplikasi hemoroid selama masa kehamilan.(adv)












