Di halaman, tumbuh pepohonan khas Sulawesi, yang dalam tradisi lokal tidak hanya menjadi elemen lanskap, tetapi juga simbol ketahanan, keberlanjutan, dan kehidupan.
Lebih dari itu, di ruang ini juga berdiri sebuah monumen kecil yang menyimpan jejak panjang sejarah jurnalistik Gorontalo.
Jauh sebelum konsep “media” hadir dalam pengertian modern, masyarakat Gorontalo telah mengenal praktik penyampaian informasi melalui sastra lisan berupa pantun, syair, dan musik tradisional yang dikenal sebagai “Tanggomo”.
Dalam perspektif komunikasi, praktik ini dapat dipahami sebagai bentuk awal jurnalisme kultural: penyampaian pesan publik, kritik sosial, dan refleksi realitas melalui medium yang hidup di tengah masyarakat.
Fondasi nilai-nilai inilah yang dirawat dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Verriyanto Majowa, seorang jurnalis senior yang memimpin AMSI Gorontalo selama dua periode hingga 2026.












