Hargo.co.id, GORONTALO – Perpustakaan desa di Gorontalo didorong terus berinovasi mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Penguatan layanan digital menjadi salah satu gagasan yang muncul dalam rangkaian visitasi Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik Tingkat Provinsi Gorontalo 2026.
Hal itu mengemuka pada visitasi hari keempat yang berlangsung di Perpustakaan Gembira, Desa Molonggota, Kecamatan Gentuma Raya, Kabupaten Gorontalo Utara, Jumat (11/9/2026).
Visitasi yang dilaksanakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo tersebut menjadi bagian dari penilaian perpustakaan desa/kelurahan terbaik dari kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo Ridwan Hemeto mengatakan, visitasi tidak hanya menjadi bagian dari penilaian lomba, tetapi juga untuk melihat sejauh mana perpustakaan desa mampu memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, perpustakaan perlu terus mengembangkan inovasi, baik dalam pengelolaan koleksi, layanan maupun program yang melibatkan masyarakat. Perkembangan teknologi juga menjadi peluang untuk memperluas akses terhadap bahan bacaan dan informasi.
“Perpustakaan desa diharapkan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga mampu menjadi ruang belajar dan pusat informasi bagi masyarakat,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam pelaksanaan visitasi tersebut.
Dalam visitasi itu, tim juri meninjau langsung kondisi dan pengelolaan Perpustakaan Gembira. Penilaian mencakup penyelenggaraan perpustakaan, pengelolaan layanan, pemanfaatan koleksi, inovasi serta program yang dikembangkan untuk mendukung budaya literasi masyarakat.
Pengelola Perpustakaan Gembira, Fatmah K. Mole, turut mempresentasikan berbagai program dan upaya yang dilakukan dalam mengembangkan perpustakaan sebagai ruang belajar dan sumber informasi bagi masyarakat Desa Molonggota.
Tim juri terdiri atas Erna Harmain, Pustakawan Ahli Utama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, Ampauleng Zainuddin selaku akademisi, serta Apris Nawu sebagai pegiat literasi.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu menyampaikan gagasan pengembangan layanan yang disebut “Perpustakaan Tangan”.
Konsep tersebut diarahkan pada pemanfaatan smartphone untuk memudahkan masyarakat mengakses bahan bacaan dan informasi.
Thariq menyebut, pengembangan layanan berbasis digital perlu melibatkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gorontalo Utara bersama Dinas Pendidikan. Kolaborasi itu diharapkan dapat menghubungkan pengembangan perpustakaan dengan upaya meningkatkan budaya membaca dan pendidikan masyarakat.
Jika konsep tersebut terealisasi, Thariq juga berencana menggelar roadshow bertajuk “Bupati Membaca Bersama Masyarakat”. Program itu diharapkan dapat mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat dan mendorong membaca menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Sebagai penulis, Thariq juga berencana menitipkan buku-buku karyanya ke berbagai perpustakaan di Gorontalo Utara. Langkah tersebut diharapkan dapat menambah koleksi sekaligus memperluas minat masyarakat terhadap buku.
Visitasi tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo Ridwan Hemeto, Sekretaris Dinas Rudi Wahyudin Erfan Daenunu bersama staf, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara.
Di antaranya Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu, Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Irwan A. Usman, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gorontalo Utara Mohamad Tamrin Sirajuddin, Kepala Dinas Kominfo Sefry Bobihoe, Plt. Camat Gentuma Raya Hastomo Musa, serta Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Gorontalo Utara.
Rombongan disambut Kepala Desa Molonggota Husin Bakari bersama perangkat desa melalui adat Gorontalo.
Melalui rangkaian lomba dan visitasi tersebut, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo mendorong perpustakaan desa/kelurahan
semakin mampu menghadirkan layanan yang inovatif, inklusif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Penguatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pendidikan dan budaya literasi,
sekaligus membuka ruang pemanfaatan teknologi dalam pelayanan perpustakaan. (Diyanti)












