HeadlineKab. Pohuwato

DT, Oknum Dokter di Pohuwato Tolak Pasien Balita, Keluarga: Katanya Sudah Tidak Mood

×

DT, Oknum Dokter di Pohuwato Tolak Pasien Balita, Keluarga: Katanya Sudah Tidak Mood

Sebarkan artikel ini
oknum dokter
Ilustrasi dokter tolak pasien.

Hargo.co.id, GORONTALO – Kesal bercampur marah nampak jelas terlihat dari raut wajah Refli Yusuf, warga Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato. Refli kesal lantaran anaknya diduga ditolak oleh oknum dokter spesialis anak, inisial DT, saat hendak memeriksakan anaknya yang masih berumur 1.6 tahun.

badan keuangan

Kepada awak media ini, Refli menceritakan ihwal peristiwa tak mengenakkan yang dilakukan oknum dokter di Pohuwato itu. Semua bermula saat dirinya sedang membawa anaknya yang masih balita berobat di tempat praktik dr. DT. Lantaran mendapat nomor antrian terakhir, dirinya pun berniat untuk mengajak anaknya sekedar jalan-jalan keluar. Sekira 30 menit berselang, dirinya pun kembali ke tempat praktik, namun mendapati pemeriksaan pasien dengan nomor antrian 3. Saat bincang-bincang dengan pasien lainnya, dirinya mendapati ada pasien lain dari Kabupaten Boalemo yang tidak memiliki nomor antrian namun segera dilakukan pemeriksaan oleh sang dokter.

“Setengah jam berlalu saya balik kesana baru nomor 3. Dorang bilang, soalnya ada ti komdan dari Tilamuta tidak ada nomor langsung ti dokter Dian terima. Baru ada yang bereaksi, keluarga yang nomor antrian 9. Itu ibu sempat baku adu mulut dengan asisten dokter, akhirnya ibu itu pulang,” jelas Refli.

badan keuangan

Sembari menunggu giliran, dirinya pun berinisiatif mengobrol dengan para apoteker di tempat praktik tersebut. Namun perbincangan itu, didengar oleh asisten dokter dan melaporkannya ke oknum dokter tersebut.

“Deng dorang apoteker disitu saya tanya, ngoni pe pelayanan disini ini bo begini nou? Orang yang tidak ada nomor boleh langsung diterima, dilayani, dorang hanya senyum. Baru saya sambung, kalau begini ngoni pe model boleh kita mohon viralkan. Nah asisten yang saat itu ada ba ambil obat disitu dapa dengar kata saya mo kase viral itu. Dia langsung cepat-cepat ke ruangan dokter, mungkin dia ba lapor,” ujarnya.

Berita Terkait:  Gasak HP Milik Teman, Warga Asal Maluku Utara Diringkus Polisi
Lanjut Refli, tak berselang lama asisten dokter masuk ke ruang pemeriksaan, sang dokter datang menghampiri dan memarahi dirinya. Meski sempat ingin menjelaskan hal tersebut, namun sang dokter justru mengeluarkan kata-kata yang menurutnya tak pantas dilontarkan seorang dokter.

“Dokter ini so dengan nengenenge mai (sombongnya) datang pa saya. Dia jawab, Eh ini hak saya. Itu yang komdan di Tilamuta itu saya pe suami pe mantan ajudan kamari (mantan ajudan suaminya semasa menjabat Wakapolres Boalemo). Jadi itu kita pe ajudan itu hak saya, orang yang tidak ada nomor, saya pe keluarga, orang dekat, saya mo layani itu hak saya. Ini bukan institusi, ini praktek,” jelasnya menirukan perkataan DT.

Kendatipun sempat kesal lantaran perkataan DT, dirinya tak lagi meladeni DT. Dirinya pun khawatir jika meladeni DT akan berimbas ke anak balitanya yang sedang sakit.

“Saya kase biar dia ba reaksi, karena yang saya takutkan dia so tidak mo layani saya pe anak, dan itu terjadi. Itu yang saya sesali. Katanya daripada kita tidak mood, mending bawa pulang bapak punya anak,” tiru Refli menyesal.

Masalah lain, kata Refli, dokter anak di Kabupaten Pohuwato hanya dr. DT. Sehinga dirinya pun bingung ketika anaknya yang tengah sakit ditolak.

“Masalahnya mo lari dimana, saya pe anak mo bawa dimana. Satu-satunya dokter anak di Pohuwato cuma dia, baru so tengah malam. Saya pe anak ini sakit amandel dengan mata bengkak. Kalau cuma panas anak saya ini saya so tidak bawa kesini. Kalau marah, dokter silahkan marah pa saya tapi kan ada istri, mama mantu saya, kan mereka bisa bawa kedalam. Katanya tidak usah, tidak usah, daripada dia so tidak mo mood. katanya dia juga capek ini dari pagi,” tambahnya.

Berita Terkait:  Inflasi Kota Gorontalo Terendah se-Indonesia, Marten-Ryan Cetak Sejarah

Dirinya pun menyesali tindakan arogan oknum dokter DT saat melayani pasien.

“Ini harus torang ini ey (jadi perhatian), sesuka hati dia karena mungkin hanya sendiri (di Pohuwato). Kalau ada lebih dari 1 kan torang masyarakat ada pilihan. Tidak harus ke dia,” pungkasnya.

Saat dikonfirmasi, dokter DT membenarkan adanya peristiwa tersebut di tempat prakteknya. Dirinya mengatakan alasan mendahulukan pasien tersebut karena telah janjian sejak pukul 08.00 Wita, pagi.

“Jadi ada dua pasien yang memang sudah janjian dengan saya. Yang pertama itu mantan ajudannya suami saya di Tilamuta, yang kedua itu pasien saya yang pernah kena difteri. Jadi otomatis dia gak boleh berkerumun kan, akhirnya pasien itu masuk. Dia bukan tidak punya antrian, tapi saya memang yang menyuruhnya masuk,” tutur dokter DT, Selasa (31/10/2023).

Dokter DT mengaku mendapat ancaman dari Refly dengan dalih ingin memviralkan peristiwa tersebut di sosial media. Dirinya lantas keluar dari ruangan praktek dan menemui Refly.

“Mendengar perkataan itu saya keluar, saya lihat sudah antrian nomor 7. Saya bilang ‘Bapak mau memviralkan saya? Bapak maaf, ini adalah praktek’,” lanjut dokter DT.

Dirinya juga mengungkapkan jika dalam melaksanakan tugasnya sebagai dokter anak yang harus diobati bukan hanya penyakit anaknya akan tetapi psikologi orang tuanya pula.

“Yang kita obati itu bukan hanya penyakit anak saja, tapi juga psikologis orang tuanya. Saya tahu psikologi orang tuanya, tapi jangan ancam saya,” tandasnya.(*)

Penulis: Riyan Lagili



hari kesaktian pancasila