Hargo.co.id, GORONTALO – Prosesi adat Mopotilolo yang menjadi bagian dari penyambutan tamu di Gorontalo meninggalkan kesan mendalam bagi Bupati Gayo Lues, Aceh, Suhaidi.
Kehangatan penyambutan yang diterimanya saat tiba di Gorontalo untuk menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026, melahirkan momen simbolis yang mempererat hubungan budaya antara Aceh dan Gorontalo.
Momen tersebut terjadi ketika Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Gorontalo, Yana Yanti Suleman, mengalungkan syal Karawo sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Tak disangka, Bupati Gayo Lues membalas penghormatan itu dengan mengalungkan sulaman khas Gayo kepada Yana.
Yana mengaku terharu atas respons spontan yang diberikan oleh kepala daerah dari Tanah Rencong tersebut. Menurutnya, tindakan itu mencerminkan penghargaan dan rasa persaudaraan yang terjalin melalui budaya.
“Saat saya mengalungkan syal Karawo sebagai simbol penghormatan kepada beliau, Bupati Gayo Lues langsung membalas dengan mengalungkan sulaman khas Gayo kepada saya. Momen itu sangat berkesan karena menunjukkan adanya penghargaan dan persaudaraan yang terjalin melalui budaya. Saya kira tidak semua tamu melakukan hal seperti itu,” ujar Yana.
Ia menambahkan, Bupati Gayo Lues juga menyampaikan kekagumannya terhadap prosesi adat Mopotilolo yang sarat akan nilai penghormatan kepada tamu.
“Beliau mengatakan bahwa adat Mopotilolo memiliki kemiripan dengan tradisi yang ada di Aceh. Bahkan saat menikmati berbagai kue tradisional Gorontalo, beliau mengenali beberapa jenis kue yang juga ada di daerahnya, meskipun memiliki nama yang berbeda,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Gayo Lues, Suhaidi, mengaku sangat terkesan dengan penyambutan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo dan masyarakat setempat.
“Kami sangat terkesan dengan penyambutan yang diberikan Pemerintah Provinsi Gorontalo dan masyarakat setempat. Prosesi adat Mopotilolo yang kami terima bukan hanya sebuah seremoni, tetapi mencerminkan penghormatan yang tulus kepada tamu. Nilai-nilai seperti ini juga hidup dalam budaya masyarakat Aceh,” ungkap Suhaidi.
Menurutnya, kedekatan nilai budaya dan religius menjadi jembatan yang semakin mempererat hubungan antara Aceh dan Gorontalo.
“Aceh dikenal sebagai Serambi Makkah dan Gorontalo sebagai Serambi Madinah. Ketika kami tiba di sini, kami merasakan suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan. Kehormatan yang diberikan kepada kami menunjukkan bahwa masyarakat Gorontalo benar-benar memuliakan tamu,” katanya.
Penyambutan tersebut menjadi simbol eratnya hubungan budaya antara Aceh yang dikenal sebagai Serambi Makkah dan Gorontalo yang dijuluki Serambi Madinah.
Melalui ajang PENAS Petani Nelayan XVII, kedua daerah tidak hanya dipertemukan dalam agenda pembangunan sektor pertanian dan perikanan,
tetapi juga dalam semangat persaudaraan, penghormatan terhadap tamu, serta pelestarian nilai-nilai budaya Nusantara.(Awl)












