Hargo.co.id, GORONTALO – Banyak pejabat yang gugup ketika berhadapan langsung dengan masyarakat. Mereka kerap terjebak dalam formalitas, dibatasi protokol, dan berlindung di balik aturan normatif.
Namun pola itu tidak berlaku pada sosok Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie.
Ya, bagi Idah, kekuasaan bukan soal simbol dan seremoni. Dirinya menempatkan pusat kekuasaan justru di tengah masyarakat—di ruang kelas, di dapur pelayanan gizi, dan di titik-titik paling dasar dari pelayanan publik.
Pengalaman panjangnya di lingkar kekuasaan nasional tak membuatnya silau. Lebih dari 10 tahun mendampingi Rusli Habibie sebagai Gubernur Gorontalo, serta lima tahun mengabdi sebagai anggota DPR RI, justru membentuk cara pandangnya: jabatan bukan untuk dinikmati, melainkan dipertanggungjawabkan.
Lalu apa yang membuat Idah Syahidah kembali memilih jalan pengabdian sebagai pejabat daerah?
Jawabannya sederhana, namun berat: cinta pada rakyat.
Dengan pengalaman lebih dari lima belas tahun itu, Idah tak canggung memperlakukan jabatannya sebagai milik publik. Ia hadir tanpa jarak, tanpa sekat protokoler yang kaku.
Pandangan sinis bahwa politik selalu kotor ia jawab dengan praktik: bahwa politik bisa dijalankan secara bersih, manusiawi, dan bermakna.
Kesucian politik itu terlihat dari caranya hadir di hadapan masyarakat—bukan lewat pidato, melainkan tindakan.
Pada kunjungan kerjanya di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai pada Kamis (29/1/2026), suasana kelas mendadak berubah.
Siswa-siswi yang tengah belajar diperlakukan bukan sebagai objek kunjungan pejabat, melainkan layaknya anak-anaknya sendiri. Interaksi berlangsung alami, hangat, tanpa kesan pencitraan.(Rls)












