Senin, 24 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ini Bahayanya Konsumsi Makanan Mengandung Formalin

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara News , pada Jumat, 10 Juni 2016 | 15:47 PM Tag: ,
  

Hargo.co.id CILEGON – Tingginya konsumsi masyarakat terhadap makanan selama bulan Ramadan kerap dimanfaatkan bagi pedagang nakal untuk mencampuri produknya dengan bahan berbahaya.

Campuran berbahaya itu bisa berdampak pada kesehatan dari konsumen. Sebagaimana yang dikatakan Pelasana Seksi Pengecekan Farmasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Cilegon Lina Andriana.

Dikatakannya, sejumlah makanan yang mengandung formalin dan pewarna pakaian berbahaya dapat menimbulkan penyakit keras seperti jantung, ginjal, sesak napas, dan kanker.

“Dampak itu bisa berlaku dalam jangka pendek atau pun jangka panjang,” ungkap Lina yang dilansir dari Radar Banten (Jawa Pos Group), Kamis (9/6).

Peringatan itu disampaikan Lina usai mengikuti mengambil 16 sampel makanan di Pasar Baru Merak. 16 sempel yang diperiksa, seperti bumbu kuning, tahu, sotong, mutiara es cendol, dan air tongkol mengandung formalin. Semua itu diketahui mengandung formalin.

Sedangkan untuk yang mengandung pewarna tekstil yakni cabai giling halus, cabai giling kasar, dua sempel mutiara es cendol, dan bumbu merah.“Untuk sampel makanan yang kami periksa memang sengaja dipilih yang warnanya mencolok, karena itu yang kami nilai rawan mengunakan bahan pengawet dan pewarna berbahaya lebih tinggi,” katanya.

Hasil pemeriksaan itu nanti akan diserahkan pada UPTD Pasar Baru Merak untuk dilakukan tindakan pada pedagang yang bersangkutan.

Dia menyebutkan, dua bulan sebelum puasa pihakya telah pernah melakukan pemeriksaan terhadap sempel di pasar yang sama. Sasaran pemeriksaan itu terhadap bumbu. Dari pemeriksaan itu hasilnya negatif.

Sementara itu, Staf Penguji Pangan Balai POM Serang Siti Nurlaili mengatakan, pengunaan bahan pengawet dan pewarna berbahaya memang sering terjadi saat Ramadan.

Kata dia, hal itu terjadi lantaran permintaan konsumen terhadap sejumlah bahan makanan meningkat. “Beberapa pedagang menyiapkan stok yang banyak tapi diberikan formalin atau pewarna tekstil. Pengawasan yang kami lakukan untuk memastikan meski mereka mempersiapkan stok yang banyak tapi kualitasnya tetap bagus,” ujarnya.

Siti mengatakan, dari hasil uji sempel yang dilakukan keakuratan hasilnya hanya sekira 70 hingga 80 persen. Sampel yang didapatkan positif akan kembali diuji di BPOM Serang.

“Kalau sudah diuji kembali dan hasilnya positif kami akan memberikan hasilnya ke UPTD pasar agar segera ditindaklanjuti,” ungkapnya. (mg01/ibm/ags/iil/JPG/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar