Yang biasa Rp 100 Ribu. Daging sapi punya saya, saya ambil dari Bongo (Paguyaman, Boalemo,red). Jadi, tidak ada ini anthrax-anthrax ini. Disana, sapi makan di kebun. Makannya masih alami,” tegas Asmin.
Pria yang akrab disapa Ka Mini juga meyakini bahwa wabah yang terjadi di wilayah Kecamatan Telaga itu bukanlah anthrax yang sebenarnya, “Kan itu belum terbukti,” timpalnya.
Asmin kemudian berujar, bahwa penyakit yang diduga anthrax itu disebabkan karena obat pembasmi rumput yang sempat dimakan oleh ternak sapi di wilayah danau di Kecamatan Telaga. “Di Telaga itu ‘kan sapi-sapi cuma dilepas di danau. Nah, disana (danau yang sudah kering) ada orang-orang yang mulai kapling tanah. Itu rumput, disemprot dengan obat (pembasmi rumput).
Itulah yang dimakan sapi-sapi disitu,” urai Asmin. Bahkan, sebelum heboh anthrax, ada ternak sapi yang mati mendadak di wilayah Kelurahan Hunggaluwa. Kasusnya sama, karena memakan tanaman yang sudah disempot obat pembasmi rumput. “Saya sudah cek kesana. Tidak benar itu anthrax,” ketusnya.
Mewakili pedagang, khususnya para pedagang daging sapi, pihaknya merasa terbantu dengan gerak cepat yang dilakukan pemerintah melalui SKPD terkait dengan tujuan untuk memberi rasa aman kepada konsumen dan tidak merugikan pedagang.(axl/hargo)
