Masuk di Gorontalo, Alfamart Terus Ditentang

×

Masuk di Gorontalo, Alfamart Terus Ditentang

Share this article
Salah satu minimarket Alfamart yang dibangun di wilayah Bandung. Dalam waktu dekat, minimarket tersebut akan masuk ke Gorontalo. (Foto Google)

“Pertanyaannya, Alfamart ini atas aspirasi publik yang mana? Kalaupun itu ada, seberapa besar ruang pelibatan publik di situ? Kasus Alfamart ini agak aneh. Tiba-tiba saja gerai-gerainya berdiri dan siap-siap launching,” tuturnya.

Kebijakan itu, lanjut Tomi, jauh dari “konsep perencanaan cerdas” yang masuk dalam kitab suci-nya smart city. Kalau harapan yang dituju adalah kenyamanan masyarakat Kota Gorontalo berbelanja, menurutnya, kenapa bukan pasar-pasar tradisional yang dibuat bagus, bersih dan aman, sehingga bisa menebus harapan kenyamanan berbelanja.

“Mengijinkan Waralaba seperti Alfamart masuk di Kota Gorontalo sama halnya dengan “keluar mulut buaya, masuk ke mulut harimau”. Menutup satu masalah dengan masalah baru yang dampaknya jauh lebih besar,” tandas Tomi.

Tak hanya itu, menurut Tomi, kebijakan itu murni pertimbangan ekonomi jangka pendek. Padahal, awalnya, imajinasi Kota Gorontalo yang smart itu: ketika setiap pengambilan keputusan publik harus mewakili banyak sumber daya, harapan, imajinasi, dan faktor-faktor teknis lainnya.

Salah satunya, misalnya, idiologi yang di dalamnya memuat nilai-nilai lokal. “Pertanyaannya, pertimbangan idiologis apa yang mendasari keputusan memasukkan Alfamart di Kota Gorontalo? Faktanya, selama ini, dalam banyak kasus, ide yang dijalankan Waralaba seperti Alfamart berhenti pada soal untung-rugi yang terbukti menggusur sumber daya lokal,” tutupnya.

Â