JK kembali ke Gorontalo tanpa pamit alias kabur. Langkah itu dilakukan karena tak akan dizinkan untuk pulang ke Gorontalo. Terlebih, JK sempat sekali berupaya kabur, tapi berhasil diketahui.
“Alhamdulillah setelah mencoba lari sebanyak 2 kali, saya akhirnya bisa sampai di Polsek Muara Pahu. Saya meminta kepada pihak kepolisian menghubungi keluarga saya yang ada di Gorontalo, agar bisa dibantu untuk kepulangan saya dan keluarga ke Gorontalo,” ujarnya.
Sebelumnya menguraikan upaya kepulangan ke Gorontalo, JK menceritakan ihwal dirinya bisa tergabung dalam Gafatar.
Kala itu Januari 2014, JK yang masih berprofesi pengemudi bentor mendapat penumpang 3 orang.
Dalam perjalanan di pusat Kota Gorontalo, JK diajak berdiskusi dengan tiga orang tersebut.
Ternyata dari 3 orang tersebut, salah satunya adalah La Ode Arsam Tira.
Pentolan organisasi Gafatar yang berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara. Dalam diskusi itu, JK termakan bujuk rayu La Ode Arsam dan rekan-rekannya.
Sehingga JK menuruti permintaan La Ode Arsam untuk kembali bertemu di Sekretariat Gafatar Gorontalo, yang saat itu terletak di Jl. Rusli Datau, Kota Gorontalo.
“Mereka janjikan saya akan mendapatkan penghasilan yang berlipat ganda, hidup yang berkecukupan. Tapi dengan syarat saya harus menjual tanah dan rumah saya sebagai jaminan awal untuk bergabung dengan mereka,” ujarnya.
