JK sendiri saat melakukan usaha pelarian. Sayangnya ia sempat tertangkap saat mencoba melarikan diri untuk pertama kali. Sebab, penjagaan para pengurus Gafatar yang terkenal cukup ketat.
Usaha untuk melarikan diri tak kunjung surut.
Hingga pertengahan Januari lalu, JK kembali berusaha melarikan diri bersama istri dan satu anaknya. Dengan memanfaatkan lengahnya pengawasan, JK lantas keluar kamp sambil sembunyi-sembunyi. “Begitu sampai di Polsek Muara Pahu dan saya langsung meminta tolong kepada petugas kepolisian agar bisa dibantu dipulangkan ke Gorontalo,†beber JK.
Selama di kamp Gafatar, JK mengakui aktivitas ribuan anggota Gafatar lebih condong beraktivitas untuk bercocok tanam. Jadwal anggota Gafatar sehari-haripun telah diatur La Ode Arsam Tira, selaku pemimpin.
Usai bangun pagi, setiap anggota Gafatar langsung bekerja di lahan hingga sore hari. Waktu istirahat yang diberikan hanyalah untuk makan dan tidur. Sehingga para pengikut nyaris tidak ada peluang untuk saling berkomunikasi antar sesama pengikut.
“Lahan yang disediakan seluas 12 hektar. Laki-lakinya disuruh bekerja dari pagi hingga sore. Perempuan bertugas menyiapkan makanan, sedangkan anak-anak diikutkan dalam pendidikan mirip sekolah. Tapi hanya mengajarkan persoalan Gafatar saja,” tutur JK.
