Pengakuan JK, Mantan Pengikut Gafatar yang Berhasil Pulang ke Gorontalo

×

Pengakuan JK, Mantan Pengikut Gafatar yang Berhasil Pulang ke Gorontalo

Sebarkan artikel ini
EX Gafatar (kanan) memberi penjelasan cerita pengalaman semasa di Kalimantan Barat dihadapan awak media usai diintrogasi oleh petugas kepolisian Polda Gorontalo. Rabu (27/1). (foto: Natha Gorontalo Post)

Tergoda dengan tawaran menggiurkan itu, JK menjual tanah dan rumah dan kemudian bergabung dengan Gafatar. Setelah satu tahun menjadi anggota, awal 2015 JK memboyong istri dan anaknya untuk hijrah ke Kalimantan.

Tepatnya di Desa Kampung Mendung, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

“Itu (hijrah) ke Pulau Kalimantan sebagai salah satu bagian penting untuk mewujudkan organisasi Gafatar,” ungkap JK.

Tapi sesampainya di Kalimantan, apa yang digambarkan sebelumnya oleh La Ode Arsam Tira sebagai pimpinan Gafatar Gorontalo tak terwujud.

Malah mereka menempati lokasi kamp di tengah hutan, yang jarak dengan perkampungan mencapai 15 kilometer.

Banyak anggota Gafatar yang kemudian protes dan hendak pulang setelah beberapa lama tinggal dan hidup di pemukiman Gafatar.

Namun menurut JK, niat protes para anggota Gafatar ini selalu gagal akibat takut dengan ancaman dari para pimpinan Gafatar dan sejumlah pengurus besar Gafatar yang ada di Kampung Mendung, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

“Pernah ada salah seorang anggota Gafatar yang berasal dari Provinsi aceh berhasil lari dari pemukiman Gafatar, namun langsung diancam agar tidak membuka mulut/menceritakan setiap kejadian dan situasi anggota Gafatar di Kalimantan Timur,” cerita JK.