Persepsi

Pesantren Kilat: Pendidikan Karakter yang Bekerja Diam-Diam

×

Pesantren Kilat: Pendidikan Karakter yang Bekerja Diam-Diam

Sebarkan artikel ini
Birokrasi adalah Keteraturan_ Dari Tapak Kaki Kuda hingga Nalar Pemerintahan - Pesantren Kilat: Pendidikan Karakter yang Bekerja Diam-Diam
Husin Ali, Antropolog.

Oleh: Husin Ali
Antropolog Pendidikan, Alumni Pesantren Kilat 1998.

Berita Terkait:  Generasi Kreatif yang Tersandera Krisis Mental

Pendidikan karakter tidak selalu bekerja melalui pidato panjang, kurikulum tebal, atau indikator yang diumumkan dengan suara lantang. Ia sering hadir secara senyap melalui kebiasaan kecil, suasana yang berulang, dan pengalaman yang nyaris luput dicatat. Pesantren kilat di bulan Ramadhan adalah salah satu contoh pendidikan yang bekerja dengan cara demikian: tidak ramai, tidak selalu disadari, tetapi meninggalkan jejak panjang dalam diri anak.

Kesadaran ini mengemuka kembali saat saya mengikuti dialog sore hari, Sabtu 14 Februari, yang disiarkan langsung oleh Radio Republik Indonesia Gorontalo. Percakapan itu tidak sibuk memperdebatkan durasi pesantren kilat yang umumnya hanya tiga sampai lima hari, melainkan mengajak kita membaca ulang maknanya. Apakah kegiatan singkat ini benar-benar mendidik, atau sekadar memenuhi kalender Ramadhan sekolah?

Berita Terkait:  Tragedi Negeri Muslim yang Dijadikan Medan Rampasan

Pertanyaan tersebut membawa saya pada ingatan personal, jauh ke tahun 1998, ketika masih menjadi siswa SMK Negeri 1 Gorontalo dan mengikuti pesantren kilat di sekolah yang sama. Saat itu, pembimbing kami adalah Pak Dr. Muhajirin Yanis, sosok pendidik yang hari ini berkiprah di Kementerian Agama pusat. Saya nyaris lupa judul materi dan susunan acara. Namun saya masih mengingat suasananya, antre wudhu yang mengajarkan sabar, rasa lapar yang ditahan bersama, suara guru yang rendah tetapi tegas, serta ketenangan sederhana saat berbuka, Renungan suci yang dibawakan ssetelah sholat subuh berjamaah. Dari sanalah saya memahami, bertahun-tahun kemudian, bahwa pesantren kilat bekerja bukan lewat hafalan, melainkan lewat pengalaman hidup yang pelan-pelan membentuk watak.

Pesantren Kilat sebagai Ritual Pendidikan
Berita Terkait:  Bahan Bakar Nira Aren untuk Tradisi Tumbilotohe

Dalam perspektif antropologi, pesantren kilat lebih tepat dibaca sebagai ritual pendidikan, bukan sekadar program sekolah. Ia memiliki seluruh unsur ritual, waktu khusus (Ramadhan), ruang khusus (sekolah dan masjid), aturan bersama, dan tujuan simbolik. Anak-anak dipindahkan dari ritme sekolah biasa ke ritme yang lebih lambat dan penuh pembatasan, bangun lebih pagi, menahan lapar, mengatur emosi, serta berbagi ruang ibadah dan kebersamaan.