“Untuk sementara mereka akan dikarantina dulu, belum tahu sampai kapan,” terangnya. Selama karantina mereka akan mendapat materi dan pembekalan terutama menyangkut psikologi dan rohani para warga eks Gafatar.
“Berdasarkan laporan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, kondisi psikologis dan rohani mereka sudah sangat rusak, akibat doktrin paham radikalisme dari para petinggi Gafatar selama satu tahun lebih di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur,”kata Adrian Lahay.
Tak hanya Jasmani kata Adrian, para eks Gafatar ini juga akan kembali didokrin menyangkut rohani. “Dari laporan yang kita terima, mereka memiliki paham dengan tidak percaya lagi kepada Tuhan, yang dipercaya masing-masing agama yang diakui di Indonesia,” ujarnya.
Di tempat terpisah, TK salah seorang eks pengikut Gafatar saat diwawancarai Gorontalo Post membantah jika organisasi Gafatar yang selama ini mereka ikut adalah adalah organisasi yang sesat.
Karena menurutnya, Gafatar memiliki visi misi yang jelas sebagai sebuah organisasi, yakni mensejahterakan seluruh tatanan hidup dalam bangsa dan negara.
Bahkan TK mengklaim, pemerintahlah yang membuat Gafatar menjadi sesat dimata masyarakat Indonesia. “Pemerintah seharusnya yang bertanggung jawab, karena merekalah yang beropini bahwa kami adalah organisasi sesat, tanpa memiliki bukti yang jelas,”ujar TK. Ia bahkan menantang pemerintah untuk membuktikan bila organisasi gafatar sesat.
“Kalau kami memang sesat, coba buktikan,”tegasnya. TK juga mengatakan, selama ini apa yang mereka lakukan di Kalimantan Timur tidak memiliki maksud apa-apa selain untuk bercocok tanam.
