Oleh: Eddy Prastyo, Editor in Chief Suara Surabaya Media
INDUSTRI media hari ini bergerak dalam lanskap yang tidak sederhana. Kemampuan distribusi konten meningkat sangat cepat, tetapi kepercayaan publik tidak selalu bergerak searah. Laporan Edelman Trust Barometer 2026 memberi sinyal penting. Dunia memasuki fase yang mereka sebut “insularity”, ketika publik makin selektif, bahkan sempit, dalam menentukan siapa yang layak dipercaya.
Situasi ini mengubah banyak asumsi lama. Jangkauan luas tidak otomatis berarti dipercaya. Trafik tinggi tidak selalu identik dengan pengaruh yang sehat. Di tengah kondisi ini, ruang redaksi menghadapi godaan yang nyata: mengejar apa yang cepat ramai, karena itu yang paling mudah terlihat dan menghasilkan uang lewat programatik.
Tidak ada yang keliru dengan kebutuhan untuk bertumbuh. Media memang harus hidup. Harus menjangkau audiens baru. Harus adaptif terhadap dinamika platform. Tapi persoalan muncul ketika viral diam-diam diperlakukan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai instrumen.
Di banyak tempat, logika ini mulai membentuk perilaku produksi konten. Emosi cepat lebih mudah dipilih. Nada yang menguatkan kegelisahan publik lebih cepat menarik perhatian. Bahkan dalam beberapa kasus, media tergelincir menjadi sekadar pemantul perasaan massa.
Di titik inilah penting membedakan secara jernih antara viralitas dan resonansi.
Viral berkaitan dengan kecepatan sebar. Ia efektif membuka pintu perhatian. Ia bekerja baik sebagai mesin “discovery“. Dalam ekosistem digital, fungsi ini tetap diperlukan. Tanpa konten yang mudah menjangkau audiens baru, pertumbuhan media bisa tersendat. Karena itu, meninggalkan viral sepenuhnya juga bukan pilihan realistis.












