Persepsi

Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita

×

Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita

Share this article
Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita
Basri Amin. Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)

Oleh: Basri Amin.
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)

Berita Terkait:  MEMIMPIN TANPA BERTEORI - 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘛𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘋𝘶𝘭𝘶 𝘉𝘦𝘳𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘛𝘦𝘰𝘳𝘪 𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘉𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯

KITA butuh kota yang benar-benar dikelola dengan keberanian yang cerdas mengubah kenyataan dan yang dipimpin oleh gagasan yang jernih mengarahkan politik perbaikan ke masa depan.

Gesekan demi gesekan ruang hidup akan semakin mewarnai hampir semua kota-kota di dunia. Konflik tata ruang, kelola aset dan akses publik, tekanan penduduk dan permukiman, arus modal dan perubahan pola hidup, akan semakin mendesak gaya dan daya kepemimpinan baru di kota-kota kita. Untuk apa? Agar iklim “ruang bersama” yang lebih adil dan yang berkelanjutan bisa terasakan oleh semua kelompok masyarakat. Tidak mudah!

Berita Terkait:  Bahan Bakar Nira Aren untuk Tradisi Tumbilotohe

Dalam faktanya, kecukupan permukiman, timbunan perilaku yang merusak lingkungan dan kebersihan air, kesejukan dan keamanan bersama, kebisingan dan persampahan, semuanya datang-bertumpuk di saat yang sama.

Kadang mendesak dengan pebuh-sesak di pagi sampai di sore hari, terkadang pula menumpuk-sesak di setiap malam dan di akhir pekan, dst. Ribuan orang “menumpuk” di kota –-dan tentu saja beserta perilakunya dan motif-motifnya yang tak sepenuhnya terkontrol–.

Berita Terkait:  Sekolah yang Memuliakan Manusia: Make Up School sebagai Jalan Kebudayaan

Mengurus sebuah Kota adalah “membalut luka-luka sejarah dalam kebudayaan kita yang paling nyata…di mana agama-agama sekali pun seringkali berubah menjadi kekuatan penyembuh yang berulang terlambat…

Di sisi lain, mereka yang merasa profesional, pakar, atau yang merasa berpengaruh memberi jalan keluar, sesungguhnya memendam rasa cemas yang berkepanjangan karena terpukau dengan pengakuan kekuasaan dan pemburuan rente ekonomi-politik baru yang selamanya rentan lepas dari tangannya…drama demi drama di atas panggung kekuasaan yang keropos tiang-tiang penyangganya…

Berita Terkait:  Gorontalo Memulai

Gorontalo Memulai
Persepsi

KETIKA bahasa ibu perlahan menjauh dari rumah, sebuah…