Persepsi

Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita

×

Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita

Sebarkan artikel ini
Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita
Basri Amin. Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)

Ibarat perahu, kota-kota kita “kelebihan penumpang” dengan gelombang yang menghadang. Terancam oleng penuh bahaya jika tak punya Nahkoda hebat yang disiplin dan yang tegas memahami navigasi, perubahan cuaca, dan kesiapan awaknya. Seorang Kapiten Perahu yang tertempa dengan firasat…

Berita Terkait:  Birokrasi adalah Keteraturan: Dari Tapak Kaki Kuda hingga Nalar Pemerintahan

BANYAK kota kita yang kini kelihatan sibuk tetapi sesugguhnya dari waktu ke waktu tak punya arah dan jalan masa depan yang berjangka panjang. Banyak kota yang menampung banyak aparat, pejabat dan kapital, tetapi selalu terkesan tidak beroleh “kepemimpinan” yang otentik memihak kepada gagasan perbaikan dan kerja-kerja bermakna bagi semua golongan.

Kota sejatinya di bangun di atas sejarah, gagasan, aksi-aksi pembaruan yang berani, dan gerakan tertentu. Meski setiap kota tetaplah mempunyai semacam “luka” yang membutnya perih, entah itu sebuah luka di masa lalu dan/atau di masa kini, tetapi kota tetaplah merupakan pencapaian peradaban manusia yang tinggi.

Berita Terkait:  Bahan Bakar Nira Aren untuk Tradisi Tumbilotohe

Tak heran kalau orang cenderung menyenangi kota dan berlomba-lomba untuk tinggal di kota, menjadi warga yang urbanized.

Kota yang jujur selalu menyadarkan tentang keaslian (perangai) kita. Begitu banyak harapan kepada setiap kota yang kita bangun. Demikian juga dengan daftar keluhan dan persoalan. Untuk memenuhi setiap harapan, sepertinya cara “menyicil” merupakan pilihan, agar kota-kota kita tidak sesak nafas dengan harapan-harapannya sendiri.

Berita Terkait:  JAWA POS ADALAH MONSTER

Beban yang terus membesar membutuhkan penyikapan, pelibatan dan penyesuaian tindakan dan cara bernalar. Jika tidak, yang kita bangun hanyalah sebuah kota yang berisi keramaian dan kerumunan. Kota seperti ini pada akhirnya hanya akan mewariskan “luka” yang terus menganga

Masa depan sebuah kota terlalu penting untuk hanya diserahkan kepada birokrasi. Apalagi, jika perangai yang dibangun oleh pemerintah kota lebih banyak memproduksi “kata-kata” dan “piagam-piagam” lencana, tapi tidak sepenuhnya memperlihatkan kerelaan cerdas untuk “belajar” dengan tuntas, agar lebih memahami yang rinci dan mampu memungut masukan-masukan dan jalan-jalan (keluar) yang kreatif atas setiap persoalan.

Berita Terkait:  Dari Parkir ke Pembangunan: Peran dan Eksistensi Retribusi Parkir di Kota Gorontalo