Tidak semua kota sukses memelihara modalnya yang unik, yakni keterbukaan dan kejujurannya dalam menemukan kesalahan. Ada kesan yang kuat, pemerintah kota-kota di negeri ini lebih sibuk menebar “tontonan” dan kesan-kesan yang dangkal –-termasuk beragam gaya seremoni— daripada sungguh-sungguh mengerahkan kemampuan tata-kelola terbaiknya dan dengan sikap itu pula ia rela berkeringat untuk perbaikan-perbaikan mendasar.
Kata-kata yang disertai angka-angka tentang kemajuan sebuah kota hanyalah lapisan luar dari apa-apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakatnya.
Tak perlu kita berbasa-basi bahwa kota-kota kita masih menampung angka kemiskinan yang lumayan;
demikian juga dengan rentannya rasa aman dan nyaman di berbagai sudut.
Di luar itu, kriminalitas dan penggunaan narkoba sejak awal sudah menyasar berbagai segmen;
belum lagi dengan premanisme dan beragam illegalitas lainnya.
Dan pada saat yang sama roda pasar dan sektor perdagangan memaksa pemanfaatan ruang di perkotaan,
tidak jarang membuahkan gesekan dan guncangan di sudut-sudut perparkiran, pertokoan, dan perumahan.












