Persepsi

Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita

×

Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita

Sebarkan artikel ini
Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita
Basri Amin. Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
Setiap jengkal ruang kota hendaknya dipastikan status dan kontribusi (fungsionalnya) dalam pembangunan perkotaan kita. Dengan begitu, “tata ruang” tidak sekadar gincu dari motif kita yang sebenarnya, yakni “tata uang”.
Berita Terkait:  Birokrasi adalah Keteraturan: Dari Tapak Kaki Kuda hingga Nalar Pemerintahan

Di kota, antara ruang dan uang sudah sangat tumpang-tindih.

Di sinilah letaknya mengapa kuasa (pemerintah) mudah digeser oleh kuasa-kuasa “lain” di luar dirinya,

Berita Terkait:  Idul Adha dan Kepemimpinan Moral

terutama karena kepentingan penguasaan ruang merupakan kekuatan paling keras yang menekan (otoritas) negara di perkotaan.

Jika ini tidak disadari sejak awal dengan memadai, maka sebuah kota tak lagi punya ruh dan identitas.

Berita Terkait:  Sekolah yang Memuliakan Manusia: Make Up School sebagai Jalan Kebudayaan

Ia tak lebih sebagai tumpukan pemukiman, pertokoan, dan tempat hiburan saja yang disesaki dengan gedung,

dililit trotoar, gudang-gudang dan gugusan komoditi, orang dan kendaraan yang lalu-lalang. (*) 

Berita Terkait:  Demokrasi Sudah Basi