KETIKA bahasa ibu perlahan menjauh dari rumah, sebuah kota mencoba memanggilnya pulang, ulasan sederhana tentang Keputusan Walikota Gorontalo mewajibkan berbahasa Gorontalo.
Oleh: Husin Ali
Antropolog, Anak GorontaloΒ
Suatu pagi, saya mendengar seorang ibu berbicara kepada anaknya dalam Bahasa Gorontalo. Sang anak mendengarkan dengan saksama, tetapi sesekali wajahnya menunjukkan tanda bertanya. Ia memahami sebagian, tetapi tidak seluruhnya.
Percakapan itu sederhana. Tidak ada yang istimewa. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah saya melihat sesuatu yang sedang berubah di Gorontalo.
Dulu, seorang anak belajar bahasa bukan dari buku. Ia belajar dari suara ibunya ketika dibangunkan, dari nasihat ayahnya, dari cerita neneknya, dari percakapan tetangga, dari candaan di halaman rumah. Bahasa tumbuh bersama kehidupan. Anak tidak merasa sedang belajar bahasa karena bahasa memang menjadi bagian dari hidupnya.
Kini keadaan mulai berbeda.
Dalam sebuah diskusi tentang ortografi Bahasa Gorontalo, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan: festival budaya dan bahasa semakin banyak, tetapi penggunaan Bahasa Gorontalo dalam kehidupan sehari-hari justru semakin sulit ditemukan.
Paradoks itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Kita mungkin semakin rajin mempertunjukkan kebudayaan, tetapi apakah kita masih menghidupinya? Kita mungkin semakin sering berbicara tentang bahasa daerah, tetapi apakah anak-anak kita masih menggunakannya?












