Perbedaannya mungkin terdengar kecil, tetapi maknanya besar. Sesuatu yang dilestarikan bisa saja hanya disimpan agar tidak hilang. Sesuatu yang dihidupkan harus digunakan, dirawat, berkembang, dan diwariskan.
Karena itu, saya tertarik pada satu kalimat yang muncul menjelang akhir diskusi: βJangan sampai diskusi ini berakhir pada diskusi.β Kalimat itu seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Kita tidak kekurangan seminar tentang kebudayaan. Kita tidak kekurangan festival. Kita juga tidak kekurangan pidato tentang pentingnya menjaga bahasa daerah.
Yang kita perlukan adalah keberanian mengubah pembicaraan menjadi kebiasaan. Mungkin dari Gorontalo kita dapat memulainya. Bukan dengan mengklaim bahwa kita telah menemukan jawaban paling sempurna. Bukan pula dengan memaksa masyarakat kembali ke masa lalu.
Justru sebaliknya, kita sedang mencoba menjawab pertanyaan masa depan: bisakah sebuah bahasa daerah tetap hidup ketika generasinya semakin digital, semakin mobile, semakin terbuka kepada dunia?
Gorontalo dapat mencoba menjawabnya. Dimulai dari sebuah kebijakan. Dilanjutkan di sekolah. Diperkuat di rumah. Dihidupkan di masyarakat. Dan akhirnya dibawa ke ruang digital.
Jika kelak pengalaman itu berhasil, ia tidak harus berhenti di Gorontalo. Ia dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain yang menghadapi persoalan serupa. Barangkali inilah makna yang lebih dalam dari sebuah SK Wali Kota. Bukan sekadar mengatur kapan orang berbicara Bahasa Gorontalo. Tetapi membuka kembali kesempatan agar sebuah bahasa memiliki masa depan.
Sebab manusia boleh berjalan sejauh-jauhnya. Anak-anak kita boleh pergi ke mana saja, menguasai ilmu apa saja, dan hidup di zaman apa saja. Tetapi mereka tetap membutuhkan jalan untuk pulang.
Dan bahasa adalah salah satu jalan pulang itu. Maka biarlah Gorontalo memulai. Bukan sekadar menjaga bahasa agar tidak mati. Tetapi mengembalikannya menjadi suara kehidupan. Pertegas ajakan pada keluarga dan sekolah.(*)












