Persepsi

Gorontalo Memulai

×

Gorontalo Memulai

Share this article
Gorontalo Memulai
Antropolog, Anak Gorontalo. Husin Ali

Guru harus merasa cukup percaya diri untuk menggunakan bahasa itu. Anak-anak harus menemukan bahwa bahasa tersebut menyenangkan. Materinya harus dekat dengan kehidupan mereka. Cerita, permainan, seni, Pramuka, percakapan, bahkan pengalaman sehari-hari dapat menjadi pintu masuk.

Berita Terkait:  Krisis Daya Beli dan Budaya Konsumtif

Sebab anak tidak akan mencintai bahasa hanya karena diperintahkan untuk menghafalnya. Anak mencintai bahasa ketika bahasa itu memberinya pengalaman.

Di sinilah saya melihat hubungan yang kuat dengan gagasan menjadikan Kota Gorontalo sebagai ruang belajar. Ruang belajar tidak cukup hanya menyediakan gedung, meja, kursi, buku, dan teknologi. Ruang belajar juga harus memberi anak rasa bahwa ia memiliki akar.

Berita Terkait:  Anak yang Dapat Menerima Pembelajaran dengan Baik dari Gurunya

Anak boleh belajar kecerdasan buatan. Boleh menguasai teknologi. Boleh berbahasa Inggris. Boleh bermimpi sekolah di kota lain, bahkan di negara lain. Tetapi ketika ia pulang, ia seharusnya masih mengenali suara kampung halamannya.

Ada sesuatu yang sering kita lupa dalam pembicaraan tentang generasi unggul. Kita terlalu cepat mengukur masa depan dari kemampuan anak menguasai teknologi, sementara jarang bertanya apakah ia masih merasa memiliki hubungan dengan tempat asalnya.

Berita Terkait:  Jumat Berkah dan Pilihan Adhan Dambea, Saat Spiritualitas Menjadi Pertimbangan Menjaga Gorontalo

Padahal manusia yang kehilangan hubungan dengan akar budayanya dapat menjadi sangat modern, tetapi belum tentu merasa memiliki rumah. Bahasa adalah salah satu rumah itu.

Mari kita lihat dari dua hari menuju budaya berbahasa gorontalo di Kota Gorontalo. Kebijakan Bahasa Gorontalo seharusnya tidak berhenti pada Selasa dan Kamis. Dua hari itu dapat menjadi pintu masuk menuju sesuatu yang lebih besar: sebuah gerakan untuk mengembalikan bahasa ke dalam kehidupan.