Persepsi

Gorontalo Memulai

×

Gorontalo Memulai

Share this article
Gorontalo Memulai
Antropolog, Anak Gorontalo. Husin Ali

Forum diskusi bahkan mengingatkan bahwa pembagian porsi penggunaan bahasa secara mingguan belum menjamin keberhasilan. Bahasa membutuhkan pengajaran yang profesional, konsistensi, penyesuaian dengan kemampuan anak, serta mekanisme yang terukur. Artinya, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah SK ditetapkan.
Berita Terkait:  Dalang yang Harus Bertanggung Jawab

Kita membutuhkan guru yang siap. Kita membutuhkan bahan ajar yang hidup. Kita membutuhkan keluarga yang ikut berbicara. Kita membutuhkan madrasah yang terlibat. Kita membutuhkan seniman, sastrawan, akademisi, komunitas dan media yang ikut bekerja.

Di dalam diskusi itu bahkan muncul gagasan agar jangan hanya TK, SD dan SMP di Kota Gorontalo saja, tetapi 31 madrasah di Kota Gorontalo diharapkan ikut menjadi bagian dari kebijakan bahasa. Saya kira gagasan semacam ini penting karena bahasa tidak pernah hidup hanya di satu lembaga. Bahasa hidup dalam ekosistem.

Berita Terkait:  Menjaga Rasionalitas Publik di Tengah Isu Komisaris Bank SulutGo

Kini, Ketika bahasa memasuki dunia digital kita bisa melihatnya. Ekosistem yang memiliki satu ruang baru yang tidak boleh kita abaikan: ruang digital. Anak-anak kita tidak hanya tinggal di rumah dan sekolah. Mereka juga tinggal di YouTube, TikTok, gim, podcast, media sosial, dan berbagai ruang digital lainnya.

Kalau Bahasa Gorontalo tidak hadir di sana, kita sedang membiarkan generasi baru mencari dunianya sendiri tanpa membawa bahasa leluhurnya.
Berita Terkait:  Pengrusakan Alat Kerja Jurnalis: Bukti Polisi Masih Represif

Karena itu, kita perlu mulai membangun kamus digital, cerita digital, podcast anak, video pendek, dokumentasi tutur para tetua, permainan bahasa, hingga bahan pembelajaran digital. Suatu saat, bukan tidak mungkin Bahasa Gorontalo menjadi bagian dari teknologi kecerdasan buatan.

Bukan agar bahasa daerah sekadar tampak modern. Tetapi agar ia tetap memiliki masa depan, dan Kota Gorontalo sebagai tempat memulai. Di sinilah Gorontalo dapat memulai sesuatu yang lebih besar.

Berita Terkait:  Sepuluh Ribu Rupiah dan Harga Sebuah Kehidupan

Kebijakan bahasa tidak perlu berhenti sebagai kebijakan sebuah kota. Ia dapat menjadi sebuah laboratorium kecil tentang bagaimana bahasa daerah dihidupkan kembali di tengah perubahan zaman.

Rumah menjadi tempat pertama. Sekolah menjadi tempat penguatan. Pemerintahan memberi teladan. Masyarakat menyediakan ruang penggunaan. Dunia digital menjadi ruang pewarisan baru. Jika semua bergerak bersama, kita tidak lagi berbicara tentang pelestarian bahasa. Kita sedang berbicara tentang menghidupkan bahasa.