Kalau itu yang terjadi, kita hanya menciptakan jadwal berbahasa, bukan budaya berbahasa. Padahal yang kita perlukan jauh lebih dalam. Kita perlu membuat Bahasa Gorontalo kembali menjadi sesuatu yang alami.
Bahasa yang digunakan seorang ibu ketika berbicara kepada anaknya. Bahasa yang digunakan guru ketika membuka percakapan di kelas. Bahasa yang digunakan seorang pegawai ketika menyapa masyarakat. Bahasa yang terdengar di halaman sekolah, di pasar, di ruang keluarga, bahkan di layar telepon genggam anak-anak.
Di situlah sebuah bahasa benar-benar hidup. Sekolah akan menjadi jalan pulang sebuah bahasa. Gorontalo sebenarnya tidak memulai dari ruang kosong. Kota ini sudah memiliki buku muatan lokal Bahasa Gorontalo dan buku guru. Namun persoalan yang ditemukan di sekolah bukan semata-mata ketiadaan buku.
Kompetensi guru dan konsistensi penggunaannya masih menjadi tantangan. Bahkan dalam pengawalan di sekolah ditemukan guru yang belum konsisten dan terus berganti.
Ini pelajaran penting. Kita sering mengira bahwa ketika buku sudah tersedia, persoalan pendidikan selesai. Padahal buku hanyalah alat. Yang menentukan adalah manusia yang menggunakan alat itu.
Karena itu, jika kita ingin menghidupkan kembali Bahasa Gorontalo melalui sekolah, maka guru harus ditempatkan di pusat gerakan. Mereka bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi pewaris kebudayaan.












