Persepsi

Gorontalo Memulai

×

Gorontalo Memulai

Share this article
Gorontalo Memulai
Antropolog, Anak Gorontalo. Husin Ali

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo menggambarkan kondisi Bahasa Gorontalo yang dalam banyak ruang tidak lagi berfungsi sebagai bahasa ibu, melainkan mulai terasa sebagai bahasa kedua. Ibu tidak lagi selalu menggunakan Bahasa Gorontalo ketika merawat dan berbicara dengan anaknya seperti generasi terdahulu.

Berita Terkait:  Ada Apa di Balik Hutan yang Telah Menjadi Abu?

Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan linguistik. Bahasa adalah ingatan yang bersuara. Di dalam bahasa tersimpan cara kita memanggil orang tua, menghormati yang lebih tua, menyapa tetangga, bercanda dengan teman, menasihati anak, mengenali alam, dan memahami hubungan manusia dengan sesamanya.

Ketika sebuah bahasa perlahan kehilangan penuturnya, yang terancam hilang bukan hanya sejumlah kata. Yang ikut menjauh adalah cara suatu masyarakat memahami dirinya sendiri.
Berita Terkait:  Ketakutan akan Sunyinya Perlawanan

Hari ini rasanya butuh Sebuah kebijakan yang membuka pintu. Karena itu, langkah Pemerintah Kota Gorontalo yang mulai membiasakan penggunaan Bahasa Gorontalo pada hari-hari tertentu, termasuk Selasa dan Kamis, menurut saya perlu dibaca sebagai sebuah awal yang penting.

Bukan karena dua hari itu akan menyelamatkan bahasa. Tidak. Nilainya justru terletak pada keberanian untuk memulai kembali.

Berita Terkait:  Korban Bencana Pohon Tumbang dan Lansia dapat Bantuan Pemkot, Disalurkan Door To Door

Sebuah pemerintah kota sedang mencoba membawa bahasa yang selama ini semakin banyak dibicarakan kembali ke ruang tempat bahasa seharusnya hidup: percakapan. Di kantor, sekolah, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari.

Tetapi di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai kebijakan itu berhenti sebagai kewajiban administratif. Jangan sampai pada Selasa dan Kamis orang dipaksa berbicara Bahasa Gorontalo, sementara pada hari-hari lainnya bahasa tersebut kembali menghilang.