Tragedi Tambang Emas: Kaki Terjepit Batu, Diamputasi, Akhirnya Meninggal

×

Tragedi Tambang Emas: Kaki Terjepit Batu, Diamputasi, Akhirnya Meninggal

Share this article
im SAR mengevakuasi korban longsor, Rabu (28/2). (BPBD Sulut)

Bahkan, hingga sebelum diamputasi, Tedi masih aktif menyantap makanan yang diantar langsung oleh petugas. Sesekali pihak keluarga ikut masuk ke lubang tersebut untuk menyuapinya.

Urutan korban teratas setelah Tedi adalah Reza. Posisi terakhir yang diketahui petugas, Reza dengan eratnya memeluk kaki kanan Tedi yang tidak tertimpa batu. Namun, saat tubuh Tedi diangkat, Reza sudah tak sadarkan diri. Wajahnya pucat. “Hanya kelihatan kepala dan tangannya. Tubuhnya tertimbun batu.”

Sebenarnya, masih ada satu korban lagi yang tak jauh dari posisi keduanya. Namun, diperkirakan, korban yang belum diketahui identitasnya itu sudah meninggal. Sebab, punggung dan dadanya terjepit batu besar. “Setelah itu sudah tidak kelihatan di bawahnya. Sudah tertutup batu total,” ungkap Sahaya setelah turun dari lokasi kejadian.

Pencarian korban pada hari ketiga kemarin membuahkan hasil. Setidaknya, tiga korban berhasil dievakuasi. Namun, ketiganya telah meninggal. “Ada dua korban yang dievakuasi sekitar jam tiga dini hari. Dan Tedi itu tadi sekitar setengah empat,” kata Sahaya yang juga membawahkan tim BPBD, Satpol PP, Dinkes, dan Dinsos Kotamobagu.

Sulitnya akses menjadi hambatan petugas. Penambangan emas tidak berizin (PETI) itu berada di puncak bukit, dekat area pertambangan milik PT JRBM. Waktu tempuh dengan kendaraan roda empat dari ibu kota Sulawesi Utara, Manado, sekitar 5 jam. Atau sekitar 1 jam dari pusat Kota Kotamobagu.