Edukasi

Kelas Drama dan Menulis Kreatif: Menjawab Tantangan Literasi dan Ekspresi Generasi Muda Gorontalo

×

Kelas Drama dan Menulis Kreatif: Menjawab Tantangan Literasi dan Ekspresi Generasi Muda Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Kelas Drama dan Menulis Kreatif_ Menjawab Tantangan Literasi dan Ekspresi Generasi Muda Gorontalo
Flyer program kelas drama dan menulis kreatif

Hargo.co.id, GORONTALO – Di tengah capaian literasi yang membanggakan dan gelombang digitalisasi yang tak terbendung, hadir sebuah inisiatif lokal yang menjawab kebutuhan mendesak generasi muda Gorontalo.

Berita Terkait:  Maksimalkan Pemberian Materi, UT Gorontalo Gelar OSMB dalam Tiga Sesi

Yaitu, kelas drama dan menulis kreatif. Program ini digagas oleh fasilitator literasi dan penulis, Indrawan Modanggu (Ones_Sank), sebagai ruang belajar yang memadukan seni peran, penulisan reflektif, dan teknologi adaptif.

Melahirkan program ini, Indrawan Modanggu bukan tanpa dasar. Menurutnya, data terbaru dari BPS Gorontalo menunjukkan bahwa tingkat melek aksara usia 15–24 tahun mencapai 99,76 persen di tahun 2024, salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Berita Terkait:  2 Mahasiswa UNG Lolos Program IISMA, Eduart: Ini Sejarah

Namun, kata dia, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Tantangan nyata muncul dalam bentuk literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan ekspresi kreatif yang bermakna.

Maka dari itu, bagi sebagian orang, program kelas drama dan menulis kreatif sangatlah penting. Pasalnya, dapat membantu kebutuhan ruang ekspresi yang jujur dan membebaskan, diluar kurikulum formal yang masih teacher-centered.

Berita Terkait:  Tingkatkan Ilmu Tentang Jurnalis, 22 Mahasiswa FSB UNG Pra Magang di Gorontalo Post

Mampu menjadi wadah untuk tingginya minat generasi muda terhadap seni dan narasi personal, namun minim wadah pembinaan yang berkelanjutan. Menjawab tantangan literasi media dan digital, yang membutuhkan pendekatan kreatif dan reflektif agar anak muda tak sekadar jadi konsumen informasi.

Adapun format dan metode pembelajaran dalam program ini. Durasinya dari Agustus hingga Oktober 2025, jumlah sesi 8 pertemuan plus 1 showcase karya.

Berita Terkait:  Jadi Media Pembelajaran, Museum Pendaratan Soekarno Bebas Biaya Masuk

“Untuk metodenya experiential learning, praktik langsung menulis dan mendramatisasi narasi dengan pendekatan humanistik, kolaboratif, dan didukung teknologi AI secara etis. Sedangkan outputnya adalah pagelaran karya dan workshop nasional, karya terkurasi (cerpen, puisi, esai, naskah drama) dan sertifikat resmi melalui kerja sama dengan Kantor Bahasa atau komunitas literasi nasional,” jelas Indrawan Modanggu.

Program ini diharapkan dapat berdampak pad meningkatnya kepercayaan diri dan daya ekspresi generasi muda, mendorong publikasi karya lokal yang bernyawa dan layak muat nasional, membentuk komunitas kreatif yang berkelanjutan dan inklusif.

Berita Terkait:  Mahasiswa PG PAUD UNG Gelar Kegiatan Spiritual Healing

“Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang jujur, hidup, dan memerdekakan imajinasi. Di sini, setiap suara punya panggung, setiap narasi punya makna,” ujar Indrawan Modanggu.

Bagi masyarakat yang berminat, formulir pendaftaran telah dibagikan melalui kanal komunitas dan media sosial.(Rls)

Berita Terkait:  Kukuhkan 11 Guru Besar, UNG Ukir Sejarah Akademik