Oleh: Sandyakala | Mahasiswa UNG
DELAPAN puluh tahun sudah bangsa ini merayakan merdeka. Bendera dikibarkan, lagu dikumandangkan, pidato diperdengarkan. Tapi setiap kali rakyat tumpah ruah di jalan, dengan teriakan serak dan tubuh bercampur gas air mata, pertanyaan yang sama selalu menggema: apakah kita benar-benar merdeka?
Pertanyaan ini kembali relevan hari-hari ini. Setidaknya tiga orang tewas dan lima lainnya luka-luka setelah gedung DPRD di Makassar terbakar dalam aksi demonstrasi pada Jumat (29/8/2025). Korban diduga terjebak di dalam gedung ketika api melalap ruangan, dua meninggal di tempat dan satu di rumah sakit (Reuters, 30 Agustus 2025).
Kemarahan publik dipicu oleh tunjangan hunian Rp50 juta per bulan bagi anggota DPR, yang jumlahnya hampir sepuluh kali lipat dari upah minimum di Jakarta (The Guardian, 26 Agustus 2025).
Situasi makin memanas setelah Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, tewas tertabrak kendaraan taktis polisi di Jakarta saat aksi berlangsung. Peristiwa tragis ini menambah keyakinan publik bahwa aparat justru represif terhadap rakyat kecil, bukan pengayom.
Demonstrasi pun meluas ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga kota-kota lain seperti Gorontalo. Mengutip Antara news pada Jumat, 29 Agustus 2025, ratusan hingga ribuan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) turun ke jalan. Aksi berlangsung di Bundaran Saronde, kemudian bergeser ke depan Rumah Jabatan Gubernur Gorontalo.












