Akar Masalah: Demokrasi Kapitalistik yang Menyuburkan Oligarki
Demokrasi kerap dielu-elukan sebagai sistem terbaik, tetapi kenyataan di lapangan menelanjangi kelemahan mendasarnya. Demokrasi kapitalistik yang kita anut membuka jalan bagi politik sebagai ajang bisnis. Kursi legislatif bukan lagi amanah, melainkan investasi.
Mereka yang mampu membayar ongkos politik mahal akhirnya duduk di kursi kekuasaan. Setelah itu, wajar bila mereka menuntut “balik modal” lewat berbagai fasilitas, tunjangan, dan proyek.
Aparat negara pun tidak sepenuhnya independen.
Ia tunduk pada logika sistem: menjaga stabilitas agar investasi asing aman, menjaga kursi penguasa tetap nyaman, meski harus menindas suara rakyat. Maka tragedi Affan Kurniawan bukanlah “kebetulan”, melainkan konsekuensi dari sistem yang menempatkan rakyat sebagai obyek, bukan subyek.
Inilah wajah nyata demokrasi kapitalistik: rakyat hanya menjadi alat legitimasi lewat kotak suara, tetapi setelah itu ditinggalkan. Elite sibuk menegosiasikan kepentingan dengan kelompok modal besar, sementara rakyat harus puas dengan janji yang terus diulang dari periode ke periode.












