Kabar Nusantara

Festival Tumbilotohe Fakultas Teknik UNG 2026, Bukti Tradisi Tetap Hidup

×

Festival Tumbilotohe Fakultas Teknik UNG 2026, Bukti Tradisi Tetap Hidup

Share this article
Festival Tumbilotohe Fakultas Teknik UNG 2026, Bukti Tradisi Tetap Hidup
Jajaran pimpinan dan panitia secara simbolis menyalakan lampu Tumbilotohe menggunakan obor sebagai tanda resmi dibukanya Festival Tumbilotohe di Kampus IV UNG.

Hargo.co.id, GORONTALO – Tradisi Tumbilotohe atau malam pasang lampu di Kampus IV Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Kabupaten Bone Bolango, resmi dibuka pada Selasa (17/3/2026).

Berita Terkait:  Viral, Pemuda Aceh Dianiaya Hingga Tewas Oleh Oknum Paspampers, Danpaspampres Buka Suara

Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan di penghujung bulan Ramadan.

Festival yang diselenggarakan mahasiswa Fakultas Teknik ini kembali menghadirkan cahaya lampu tradisional sebagai simbol pelestarian budaya Gorontalo yang diwariskan secara turun-temurun.

Berita Terkait:  Polairud Gorontalo Gagalkan Penyelundupan Rokok Ilegal

Ketua panitia, Muhammad Al Jufri Tohopi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini mengusung tema Tuoto lo Tumbilotohe Jamo Pate, yang dimaknai sebagai bukti bahwa cahaya tradisi Tumbilotohe tidak akan pernah padam.

“Tradisi Tumbilotohe merupakan warisan budaya turun-temurun yang terus dijaga dan dilestarikan. Ini menjadi komitmen kami sebagai mahasiswa untuk terus menghadirkan kegiatan ini setiap tahun,” ujarnya.

Berita Terkait:  Kapolri dan Panglima TNI Hadiri Kegiatan Bakti Sosial dan Bakti Kesehatan di Papua

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan tersebut didukung oleh berbagai pihak, mulai dari civitas akademika, senat mahasiswa, hingga himpunan mahasiswa jurusan.

Adapun sumber pendanaan berasal dari proposal, donatur, serta usaha dana yang dihimpun oleh panitia.
Berita Terkait:  Kapolsek Paguyaman Pantai Salurkan Paket Ramadan

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UNG, Sardi Salim, mengapresiasi konsistensi mahasiswa dalam menjaga tradisi yang telah berlangsung hampir dua dekade tersebut.

“Tradisi ini sudah berjalan sejak sekitar tahun 2006 atau 2007. Ini adalah bentuk konsistensi luar biasa dari mahasiswa Fakultas Teknik dalam menjaga budaya daerah,” ungkapnya.

Berita Terkait:  Polda Riau Gelar Doa Bersama, Puncak Cooling System Wujudkan Pemilu Damai

Ia juga menyoroti sejumlah tantangan, seperti meningkatnya harga dan keterbatasan minyak tanah sebagai bahan bakar lampu tradisional.

Meski demikian, mahasiswa tetap mempertahankan penggunaan lampu tradisional demi menjaga keaslian budaya.

Berita Terkait:  BNPT: Teroris dan Radikalisme Seperti Penyakit Mental

“Kami berharap kegiatan ini semakin dikenal luas dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan dinas terkait,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor II UNG, Moh. Hidayat Koniyo, menyampaikan bahwa Tumbilotohe memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat.

Berita Terkait:  Menhub Budi Karya Sumadi Dipanggil KPK Sebagai Saksi Dugaan Kasus Suap Jalur Kereta Api

Tradisi ini telah ada sejak abad ke-15 atau ke-16 sebagai bentuk penerangan jalan menuju masjid sekaligus simbol syukur di akhir Ramadan.

“Tumbilotohe bukan sekadar tradisi, tetapi juga mengandung nilai keimanan, kebersamaan, dan gotong royong atau mohuyula yang harus terus dijaga,” jelasnya.

Berita Terkait:  Datangi Kemenhub, Pj Gubernur Bahas Pengembangan Transportasi di Gorontalo

Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus berinovasi tanpa menghilangkan nilai tradisional, seperti menciptakan lampu ramah lingkungan berbasis teknologi.

Festival Tumbilotohe di Kampus IV UNG ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya,

Berita Terkait:  Polda Amankan Puluhan Ribu Botol Miras di Kabupaten Gorontalo

tetapi juga memberikan dampak sosial serta mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat.

Kegiatan kemudian dibuka dengan penyalaan lampu obor sebagai simbol dimulainya perayaan,

Berita Terkait:  Tradisi Tumbilotohe di Posigadan Masih Gunakan Alikusu dari Bambu

menghadirkan suasana penuh cahaya dan kehangatan di malam penghujung Ramadan. (Mg-08)