Hargo.co.id, GORONTALO – Tradisi Tumbilotohe atau malam pasang lampu di Kampus IV Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Kabupaten Bone Bolango, resmi dibuka pada Selasa (17/3/2026).
Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan di penghujung bulan Ramadan.
Festival yang diselenggarakan mahasiswa Fakultas Teknik ini kembali menghadirkan cahaya lampu tradisional sebagai simbol pelestarian budaya Gorontalo yang diwariskan secara turun-temurun.
Ketua panitia, Muhammad Al Jufri Tohopi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini mengusung tema Tuoto lo Tumbilotohe Jamo Pate, yang dimaknai sebagai bukti bahwa cahaya tradisi Tumbilotohe tidak akan pernah padam.
“Tradisi Tumbilotohe merupakan warisan budaya turun-temurun yang terus dijaga dan dilestarikan. Ini menjadi komitmen kami sebagai mahasiswa untuk terus menghadirkan kegiatan ini setiap tahun,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan tersebut didukung oleh berbagai pihak, mulai dari civitas akademika, senat mahasiswa, hingga himpunan mahasiswa jurusan.
Adapun sumber pendanaan berasal dari proposal, donatur, serta usaha dana yang dihimpun oleh panitia.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UNG, Sardi Salim, mengapresiasi konsistensi mahasiswa dalam menjaga tradisi yang telah berlangsung hampir dua dekade tersebut.
“Tradisi ini sudah berjalan sejak sekitar tahun 2006 atau 2007. Ini adalah bentuk konsistensi luar biasa dari mahasiswa Fakultas Teknik dalam menjaga budaya daerah,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan, seperti meningkatnya harga dan keterbatasan minyak tanah sebagai bahan bakar lampu tradisional.
Meski demikian, mahasiswa tetap mempertahankan penggunaan lampu tradisional demi menjaga keaslian budaya.
“Kami berharap kegiatan ini semakin dikenal luas dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan dinas terkait,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor II UNG, Moh. Hidayat Koniyo, menyampaikan bahwa Tumbilotohe memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat.
Tradisi ini telah ada sejak abad ke-15 atau ke-16 sebagai bentuk penerangan jalan menuju masjid sekaligus simbol syukur di akhir Ramadan.
“Tumbilotohe bukan sekadar tradisi, tetapi juga mengandung nilai keimanan, kebersamaan, dan gotong royong atau mohuyula yang harus terus dijaga,” jelasnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus berinovasi tanpa menghilangkan nilai tradisional, seperti menciptakan lampu ramah lingkungan berbasis teknologi.
Festival Tumbilotohe di Kampus IV UNG ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya,
tetapi juga memberikan dampak sosial serta mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat.
Kegiatan kemudian dibuka dengan penyalaan lampu obor sebagai simbol dimulainya perayaan,
menghadirkan suasana penuh cahaya dan kehangatan di malam penghujung Ramadan. (Mg-08)












