Hargo.co.id, GORONTALO – Suasana penuh semangat dengan nuansa sastra mewarnai pembukaan Bulan Sastra 2026 yang digelar Jumat (24/2/2026).
Mengangkat tema “Gema Kata, Gelora Sastra: Mengembangkan Peradaban Melalui Sastra”, kegiatan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus penegasan bahwa karya dan suara mahasiswa tetap hidup serta terus bergema.
Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Ulfa Zakaria, menekankan bahwa esensi kegiatan ini tidak semata-mata berorientasi pada kompetisi. Menurutnya, ajang tersebut lebih dari sekadar mencari pemenang.
“Lomba bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi menjadi wadah silaturahmi untuk mempererat persaudaraan melalui sastra,” ujarnya.
Ia menilai, sastra memiliki kekuatan besar dalam menyatukan sekaligus membangkitkan semangat berkarya di kalangan mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin termotivasi untuk terus berkreasi, baik dalam karya sastra murni maupun penerapannya di dunia pendidikan.
“Kami berharap ini bisa mendorong mahasiswa untuk terus berkarya, baik dalam pengembangan sastra maupun dalam proses pembelajaran nantinya,” tambahnya.
Selain sebagai ajang kreativitas, Bulan Sastra 2026 juga menjadi ruang pembelajaran di luar kelas.
Wakil Dekan I Fakultas Sastra dan Budaya, Dr. Salam, menyebut keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini sangat penting bagi pengembangan diri.
“Kegiatan ini mampu meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan komunikasi mahasiswa,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa keterampilan tidak cukup hanya dipahami secara teoritis, melainkan harus diasah melalui pengalaman langsung.
“Kemampuan komunikasi dan kerja sama tidak bisa hanya dipelajari dari buku, tetapi harus dipraktikkan melalui kegiatan nyata seperti ini,” jelasnya.
Di tengah dinamika kehidupan kampus, mahasiswa juga diingatkan untuk aktif berorganisasi sebagai bekal menghadapi kehidupan sosial di masyarakat.
“Organisasi menjadi ruang penting untuk melatih kolaborasi, kerja tim, dan komunikasi yang efektif,” tutupnya.
Dengan semangat Gema Kata yang diusung, Bulan Sastra 2026 bukan sekadar ajang merangkai kata, tetapi juga menjadi medium untuk menyuarakan makna dan gagasan.
Lebih dari itu, kegiatan ini menegaskan bahwa kata-kata memiliki kekuatan dalam membangun peradaban.(mg-08)












