Hargo.co.id, GORONTALO – Derasnya arus informasi di era digital membuat kemampuan membaca saja tidak lagi cukup. Masyarakat dituntut mampu menelusuri, memeriksa, menilai hingga menggunakan informasi secara tepat agar tidak mudah terjebak hoaks.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo memperkuat kompetensi para penggerak literasi melalui Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru dan Pegiat Literasi Tahun 2026.
Kegiatan yang digelar di Aula Lantai II Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Provinsi Gorontalo, Selasa (11/8/2026), dibuka Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie.
Wagub Idah menilai tantangan literasi saat ini telah bergeser. Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana masyarakat memperoleh informasi, melainkan bagaimana memastikan informasi yang diterima benar, relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Literasi tidak cukup hanya membaca dan menulis. Kita harus mampu mengenali kebutuhan informasi, melakukan penelusuran, mengevaluasi sumber, serta memanfaatkan informasi secara kritis, etis dan efektif,” ujar Wagub Idah.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data 2025, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Provinsi Gorontalo berada pada angka 59,20. Sementara Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tercatat 10,46.
Menurut Wagub Idah, capaian tersebut harus menjadi pemicu untuk memperkuat gerakan literasi secara lebih serius dan terarah. “Angka-angka ini adalah alarm sekaligus cambuk bagi kita semua untuk terus bekerja keras,” tegasnya.
Wagub Idah menyebut pustakawan, guru dan pegiat literasi memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat yang cakap informasi. Pustakawan tidak hanya bertugas mengelola koleksi dan layanan perpustakaan, tetapi juga membantu masyarakat menemukan sumber informasi yang kredibel.
Guru berperan membangun kemampuan peserta didik dalam menggunakan informasi untuk proses pembelajaran, sementara pegiat literasi menjadi penggerak di tengah komunitas. Untuk itu, peningkatan kapasitas ketiga unsur tersebut dinilai penting agar pesan literasi tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat diteruskan kepada masyarakat.
“Saya berharap setelah mengikuti bimbingan teknis ini, Bapak dan Ibu tidak hanya membawa pulang ilmu dan sertifikat, tetapi juga membawa semangat untuk menjadi penggerak literasi di lingkungan masing-masing,” katanya. Ia menambahkan, literasi informasi juga menjadi salah satu benteng masyarakat menghadapi penyebaran berita palsu.
Kemampuan memeriksa dan mengevaluasi informasi diperlukan agar masyarakat tidak mudah menerima maupun menyebarkan informasi yang belum teruji kebenarannya.
Menurutnya, penguatan literasi harus dilakukan secara kolaboratif dan menyentuh berbagai lingkungan kehidupan masyarakat, mulai dari perpustakaan, sekolah, keluarga hingga komunitas. “Literasi informasi harus menjadi instrumen untuk membentengi masyarakat dari hoaks sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Arpus Provinsi Gorontalo, Rudi Wahyudin Erfan Daenunu, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membuat akses masyarakat terhadap informasi semakin terbuka.
Namun, kemudahan tersebut belum otomatis membuat masyarakat mampu mengolah informasi secara bijak. Di sinilah pentingnya peningkatan kompetensi para penggerak literasi.
“Pustakawan sebagai pengelola sumber informasi, guru sebagai fasilitator pembelajaran berbasis informasi, serta pegiat literasi sebagai agen perubahan dalam memberdayakan masyarakat,” jelas Rudi.
Dalam bimtek tersebut, peserta mendapatkan tiga materi utama. Materi pertama membahas pengertian, konsep dasar literasi dan kebutuhan informasi yang disampaikan Hans Ruchban.
Materi berikutnya mengenai penelusuran dan sumber-sumber informasi disampaikan Yusron Humonggio. Sedangkan materi analisis-sintesis, evaluasi dan penyajian informasi disampaikan Ade Yul Pascasari Katili.
Kegiatan berlangsung dalam dua gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan Selasa (11/8/2026), sedangkan gelombang kedua dijadwalkan Rabu (12/8/2026). Setiap gelombang diikuti 50 peserta.
Dinas Arpus Provinsi Gorontalo berharap pelatihan tersebut menghasilkan dampak yang lebih luas. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan diterapkan di tempat kerja maupun komunitas masing-masing.
Dengan begitu, penguatan kapasitas pustakawan, guru dan pegiat literasi diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem literasi informasi yang lebih kuat di Gorontalo, sekaligus mendorong peningkatan TKM dan IPLM pada tahun-tahun mendatang.(Diyanti)












