Hargo.co.id, GORONTALO – Semangat menunaikan ibadah haji tetap membara dalam diri Salim Potutu Tomayahu meski usianya telah menginjak 85 tahun. Warga Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo itu menjadi jemaah tertua dalam Kloter 28 tahun 2026.
Di tengah usia senja, pria yang akrab disapa Tio Opa tersebut tetap menunjukkan tekad kuat untuk berangkat ke Tanah Suci. Ia mengaku telah mempersiapkan keberangkatan hajinya sejak beberapa tahun lalu dengan menyisihkan tabungan sedikit demi sedikit.
Salim mendaftar haji pada tahun 2020 menggunakan uang hasil simpanan pribadinya. Baginya, perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar impian, tetapi juga bentuk pengabdian spiritual yang telah lama diharapkan.
“Awalnya ada simpanan, kemudian ditabung terus,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026).
Salim diketahui merupakan pensiunan Dinas Kesehatan yang pernah bertugas di wilayah Boalemo. Setelah pensiun pada 1997, ia menjalani hari-harinya bersama keluarga di Kota Gorontalo.
Dari lima orang anak yang dimilikinya, dua di antaranya telah meninggal dunia. Sang istri juga telah lebih dahulu wafat. Pada musim haji tahun ini, ia didampingi anak keduanya, Syarif Potutu, selama perjalanan ibadah di Tanah Suci.
Bagi Salim, harta yang diperoleh selama hidup seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal bernilai ibadah. Salah satu cita-cita terbesarnya adalah bisa menunaikan rukun Islam kelima sebelum akhir hayat.
“Kalau menurut orang tua-tua dulu, tidak ada gunanya harta yang dicari kalau tidak dipakai untuk naik haji. Jadi percuma semua pencarian kalau tidak digunakan di jalan Allah,” tuturnya dikutip dari Gorontalopost.co.id
Meski sudah lanjut usia, kondisi kesehatan Salim masih cukup baik. Ia bahkan masih mampu berjalan sendiri dan mengikuti aktivitas persiapan keberangkatan haji dengan lancar.
Ia meyakini kesehatan yang dimilikinya bukan semata karena pengobatan, melainkan karena pertolongan Tuhan.
“Dokter hanya memberi obat dan pengobatan, tapi yang menyembuhkan tetap Tuhan,” katanya.
Dengan penuh harapan, Salim ingin dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar dan kembali ke Gorontalo dalam keadaan sehat.
Perjalanan hidup Salim menjadi gambaran tentang kesabaran, keteguhan hati, dan keyakinan yang tetap terjaga hingga usia senja. Setelah bertahun-tahun menabung dan menanti giliran keberangkatan, impian menuju Tanah Suci akhirnya terwujud di usia 85 tahun.(Tr-76)












