Oleh: Fitra Usman | Pelajar Mahasiswa
Laporan-laporan resmi yang dirilis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan mental mahasiswa Indonesia berada pada titik paling mengkhawatirkan. Namun sayangnya, respons kampus lebih banyak berupa solusi tambal sulam—konseling, ruang pelepas stres, dan program kuratif lain—yang meredakan gejala tanpa menyentuh akar persoalan. Generasi kreatif dan kritis ini bukan rapuh karena emosinya semata, melainkan karena struktur hidup yang timpang. Pemulihannya tidak bisa bertumpu pada solusi kosmetik, tetapi pada perubahan yang menyentuh akar sistemik.
Krisis Mental dalam Angka
WHO dalam laporan global kesehatan mental remaja tahun 2023 mencatat bahwa 1dari7remajausia10–19 tahun mengalami gangguan mental, mulai dari depresi hingga kecemasan. Gambaran global ini sejalan dengan kondisi Indonesia. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dirilis Kementerian Kesehatan pada tahun 2023 menyebutkan bahwa 1 dari 3 remajasekitar 15,5 juta jiwamengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Di berbagai daerah, kondisi ini semakin kasat mata. Tren munculnya rage roomruang untuk melampiaskan stres dengan memukul atau merusak barangmulai diliput media sejak 2022 dan terus meningkat hingga 2024. Di Gorontalo, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui UPA BK pada 2025 membentuk jaringan konselor sebaya sebagai respons atas meningkatnya masalah mental mahasiswa. Semua inisiatif ini penting, tetapi tetap bersifat kuratif: hadir setelah krisis terjadi, bukan mencegahnya.












