Solusi Kosmetik yang Meninabobokan
Sebelum masuk pada pembahasan solusi, penting untuk disadari bahwa banyak tekanan yang dialami mahasiswa hari ini bukan hadir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dalam struktur kapitalisme yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas, manusia sebagai sumber daya ekonomi, dan kesejahteraan mental sebagai urusan individu, bukan tanggung jawab negara. Dalam logika kapitalisme, kampus dipacu untuk mencari pemasukan, mahasiswa dituntut menjadi “tenaga siap pakai”, sementara beban hidup ditanggung sendiri oleh masing-masing individu. Dari sinilah akar tekanan sistemik itu menguat.
Program konseling kampus pada umumnya baru hadir ketika masalah sudah pecah di permukaan. Tidak ada mekanisme pencegahan yang serius. Ruang pelepas emosi seperti rage room hanyalah anestesi: menenangkan sesaat tanpa menyentuh sumber stres.
Sebab bagaimana mungkin tekanan biaya hidup, tuntutan akademik, atau ekspektasi sosial dapat selesai hanya dengan memecahkan kaca?
Mahasiswa tidak membutuhkan plester; mereka membutuhkan perombakan fondasi.
Generasi Z dikenal sebagai generasi kreatif, kritis, dan berdaya inovasi tinggi. Namun potensi ini bisa redup jika mereka terus hidup dalam sistem yang membuat kesehatan mental mereka rapuh.
Mereka tidak membutuhkan sekadar konseling personal,
tetapi ekosistem kehidupan yang adil dan suportif sebuah sistem yang tidak hanya merespons, tetapi mencegah.












