Senin, 18 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Karena Hal Ini, Harga Daging Ayam Melejit

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Jumat, 29 April 2016 | 13:40 PM Tag: ,
  

Hargo.co.id GORONTALO – Sejak merebaknya isu wabah anthrax, warga Kota Gorontalo rupanya masih “alergi” membeli daging sapi. Sebaliknya, daging ayam menjadi buruan warga. Permintaan yang melonjak membuat harga daging ayam pun merangkak naik.

Fenomena itu sangat terasa di pasar Liluwo, Kecamatan Kota Tengah. Tempat penjualan daging ayam paling ramai pembeli meski harganya sudah naik. Sebelumnya, harga daging ayam rata-rata Rp 35 Ribu sampai Rp 40 Ribu per ekor.

Kini mulai naik Rp 50 Ribu per ekornya. Namun, beberapa warga diantaranya juga membeli daging ayam per kilogram. “Takut juga sih. Makanya, saya belum beli daging sapi. Ayam sudah cukup,” ungkap Neni warga Kelurahan Paguyaman, Kecamatan Kota Tengah.
sementara itu, Arman salah seorang pedagang ayam di pasar Liluwo mengatakan, saat ini memang megalami kenaikan harga karena permintaan semakin meningkat.

“Saat ini harga daging ayam mengalami kenaikan. Dulu 1 kilo hanya berkisar Rp 15 ribuan. Sekarang ini sudah berkisar pada harga Rp 20 ribuan per kilonya,” tuturnya.
Sedangkan untuk pembeli, Arman mengakui mengalami peningkatan sejak dua pekan terakhir ini. “Sejak beberapa minggu kemarin, pembeli mengalami peningkatan.

Biasanya, satu hari yang laku terjual hanya 20 kg atau 10 ekor ayam. Tapi sekarang ini, paling sedikit sudah menjadi 40 Kg atau 20 ekor ayam dalam seharinya,” tandas Arman.
Rupanya memang benar, keadaan pasar Liluwo tampak kontras jika dibandingkan dengan pasar sentral Kota Gorontalo. Hingga kemarin, penjualan daging sapi masih lesu.

Rata-rata pedagang setempat mengaku sudah merugi. Ramin Beu, salah seorang pedagang mengaku, penjualan daging sapi miliknya belakangan ini mengalami peurunan drastis, “Penjualan saat ini mengalami penurunan 80 persen dari penjualan sebelumnya,” tutur Ramin.(Tr-51/hargo)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar