Kabar NusantaraKota Gorontalo

Rekam Jejak Pelayanan Kesehatan Gorontalo Diabadikan Lewat Buku Seabad RSAS

×

Rekam Jejak Pelayanan Kesehatan Gorontalo Diabadikan Lewat Buku Seabad RSAS

Share this article
Rekam Jejak Pelayanan Kesehatan Gorontalo Diabadikan Lewat Buku Seabad RSAS
Peluncuran buku “Menjadi Lebih Baik untuk Semua: 100 Tahun Rumah Sakit Umum Kota Gorontalo Prof. dr. H. Aloei Saboe” yang digelar bertepatan dengan peringatan satu abad RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Jumat (22/5/2026).

Hargo.co.id, GORONTALO – Perjalanan panjang dunia kesehatan di Gorontalo resmi diabadikan dalam peluncuran buku “Menjadi Lebih Baik untuk Semua: 100 Tahun Rumah Sakit Umum Kota Gorontalo Prof. dr. H. Aloei Saboe” yang digelar bertepatan dengan peringatan satu abad RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Jumat (22/5/2026).

Berita Terkait:  Integritas Jurnalistik di Era AI Jadi Sorotan dalam Diskusi Temu Jurnalis Gorontalo 2026

Peluncuran buku tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam perayaan 100 tahun rumah sakit yang selama ini dikenal sebagai rumah sakit rujukan terbesar di Provinsi Gorontalo.

Direktur RSUD Aloei Saboe, Abdulhafidz Daud mengatakan, penerbitan buku itu bukan sekadar dokumentasi sejarah, tetapi menjadi warisan nilai pengabdian bagi generasi mendatang.

Berita Terkait:  Kodim 1304 Gelar Pasar Murah, Disambut Antusias Warga

Menurutnya, momentum satu abad rumah sakit perlu ditandai dengan karya yang mampu merekam perjalanan dan perjuangan para tenaga kesehatan yang telah berjasa membangun pelayanan kesehatan di Gorontalo.

“Harapannya, generasi sekarang bisa belajar dari perjuangan para pendahulu. Keterbatasan pada masa itu tidak menghalangi mereka untuk terus mengabdi kepada masyarakat,” ujar Abdulhafidz.

Berita Terkait:  Terkait Penindakan 4 WNA di Pohuwato, Disnakertrans Apresiasi Kantor Imigrasi Gorontalo

Buku tersebut memuat sejarah perkembangan RSUD Aloei Saboe sejak masih berupa balai pengobatan sederhana

hingga tumbuh menjadi pusat layanan kesehatan utama di Gorontalo.

Berita Terkait:  Tutup Bhayangkara Gorontalo Offroad 2023, Kapolda: Lahirkan Offroader Terbaik

Di dalamnya juga diangkat kisah pengabdian Prof. Dr. H. Aloei Saboe yang mulai bertugas di Gorontalo sejak 1941 dan dikenal luas sebagai tokoh kesehatan masyarakat.

Selain diterbitkan dalam bentuk cetak, buku itu juga akan tersedia dalam format digital agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat dan kalangan akademisi.

Berita Terkait:  Keluarga Besar Uloli Serumpun Resmi Dikukuhkan, Merlan Dorong Kontribusi Nyata bagi Warga

Tidak hanya peluncuran buku, rangkaian peringatan 100 tahun RSUD Aloei Saboe juga ditandai dengan peresmian Museum Aloei Saboe yang menghadirkan berbagai arsip, dokumen, hingga jejak pengabdian tenaga kesehatan terdahulu.

Manajemen rumah sakit turut melakukan penamaan sejumlah ruangan dan gedung menggunakan nama dokter, bidan, perawat, apoteker,

Berita Terkait:  Pengelolaan PAD Kepulauan Sangihe Butuh Ketegasan Pimpinan

serta tenaga administrasi yang pernah berjasa pada masa awal perkembangan rumah sakit.

Sementara itu, Ketua IDI Wilayah Gorontalo, Isman Yusuf menjelaskan, buku tersebut mengulas tiga fokus utama, yakni sejarah RSUD Aloei Saboe,

Berita Terkait:  8.080 Liter Cap Tikus Dimusnahkan, Polres Gorontalo Perketat Peredaran Miras

capaian rumah sakit selama satu abad, serta perjalanan hidup Prof. Dr. H. Aloei Saboe sebagai tokoh yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit.

Menurut Isman, penerbitan buku itu penting untuk menjaga semangat pengabdian tenaga kesehatan agar terus hidup di tengah perkembangan pelayanan medis modern.

Berita Terkait:  TPP ASN Pemkot Bulan April Terancam Tak Cair, ASN Wajib Lunasi PBB

“Nilai-nilai perjuangan dokter Aloei Saboe dan para dokter perintis lainnya diharapkan tetap menjadi inspirasi bagi tenaga kesehatan dan masyarakat,” kata Isman.

Dalam kegiatan “Obrolan Buku” yang menjadi bagian dari peluncuran tersebut, turut dipaparkan kisah “Tiga Serangkai” dokter perintis Gorontalo,

Berita Terkait:  Peringati HUT Bhayangkara, Wakapolda Gorontalo Gelar Upacara Tabur Bunga

yakni Prof. Dr. H. Aloei Saboe, dr. Lim Tang Hong, dan dr. M.M. Dunda.

Prof. Aloei Saboe dikenal aktif menangani penyakit menular dan penanganan lepra,

Berita Terkait:  Menteri Diktisaintek Ajak Warga Muhammadiyah Bangkit Kelola Ekonomi Umat

sementara dr. Lim Tang Hong berfokus pada pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Adapun dr. M.M. Dunda dikenang karena keberhasilannya memberantas wabah penyakit kulit menular “Ambalo” di Gorontalo.

Berita Terkait:  Terkait Penindakan 4 WNA di Pohuwato, Disnakertrans Apresiasi Kantor Imigrasi Gorontalo

Berdasarkan penelusuran arsip nasional, cikal bakal rumah sakit mulai dibangun pemerintah Hindia Belanda pada 1926

dalam bentuk poliklinik sederhana beratap rumbia dan resmi beroperasi pada 1929 dengan dokter pemerintah pertama, dr. Andreas Umanau.

Berita Terkait:  TPP ASN Pemkot Bulan April Terancam Tak Cair, ASN Wajib Lunasi PBB

Nama Prof. Dr. H. Aloei Saboe kemudian resmi digunakan sebagai nama rumah sakit melalui keputusan Wali Kota Gorontalo pada 2 September 1987

dan mulai diresmikan penggunaannya setahun kemudian sebagai bentuk penghormatan atas jasa

Berita Terkait:  Menteri Diktisaintek Ajak Warga Muhammadiyah Bangkit Kelola Ekonomi Umat

serta pengabdiannya bagi masyarakat Gorontalo.(Adv)